Ya, WiFi adalah teknologi yang membuat anaknya itu menderita. Bukan karena koneksinya yang lambat atau sejenisnya, melainkan karena Jenny menderita alergi terhadap jaringan WiFi.
Sebelum bunuh diri, Jenny menuliskan sebuah surat, yang menurut Debra bertuliskan, "Ia tak kuat lagi dengan alergi WiFi yang dideritanya".
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia juga menuduh bahwa pihak sekolah anaknya itu mengetahui kondisi alergi Jenny, namun tak melakukan apapun untuk menolong putrinya. Di kelasnya, Jenny dipaksa duduk di bagian yang dekat dengan router -- yang artinya akan terpapar sinyal WiFi lebih besar.
Bahkan menurut Debra, Jenny terkadang harus 'kabur' dan mencari ruangan kelas yang sedang tak digunakan agar ia bisa mengerjakan tugas-tugasnya. Namun pihak sekolah malah menghukumnya karena dianggap membolos.
"Kondisi Jenny langsung membaik setelah ia menjauh dari router tersebut, jadi ia hampir selalu mencari tempat di sekolahnya yang tidak terjangkau sinyal WiFi, hanya untuk mengerjakan tugasnya," ujar Debra.
Petugas di kamar mayat Oxfordshire, Darren Salter menyatakan bahwa tak ada catatan medis yang menyebutkan bahwa Jenny terdiagnosa EHS. Sementara pihak sekolah mengatakan bahwa router WiFi yang mereka gunakan sudah sesuai dengan standar yang ada.
World Health Organization (WHO) pernah melaporkan masalah soal EHS ini pada tahun 2005. "EHS ditandai dengan bermacam gejala yang tak spesifik dan berbeda untuk setiap individunya. Gejala ini dipastikan kebenarannya meski tingkat keparahannya berbeda," tulis WHO dalam laporannya.
Kini keluarga Jenny memulai sebuah kampanye untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap EHS dan mencoba memaksa pihak sekolah untuk mengganti router yang mereka gunakan.
"Hanya karena WiFi itu baru dan berada di sekitar kita, tak berarti itu aman. WiFi dan anak-anak seharusnya tak digabungkan. Perlu ada penelitian lebih lanjut soal ini, karena saya percaya bahwa WiFi itulah yang membunuh anakku," lirih Debra.
(asj/ash)