Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara ikut angkat bicara soal driver Go-Jek yang ramai-ramai menggelar demo menuntut transparansi soal pemotongan biaya pendapatan.
Chief RA, panggilan akrabnya, memberi saran. Sebaiknya antara PT Go-Jek Indonesia dengan para armada Go-Jek melakukan mediasi saja dengan cara pendekatan secara kekeluargaan.
"Lebih baik mediasi saja antara Go-Jek dengan mitranya tersebut. Dijelaskan baik-baik, mengapa mereka harus melakukan kebijakan itu," demikian kata menteri saat ditemui di sela Golden Ring Award 2015 di Hotel Kartika Chandra, Jakarta, Senin (16/11/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Go-Jek itu bukan diatur ride sharing, karena ojek bukan transportasi dalam undang-undang. Beda dengan Grabcar. Mereka ini perusahaan memecahkan masalah sosial, makanya disebut socialpreneur," jelas menteri
Driver Go-Jek pada umumnya dikenakan biaya potongan untuk atribut seperti helm, penutup helm, sampai jaket. Namun para pengemudi berpendapat, tak ada rincian yang detail terkait pemotongan tersebut.
Mereka juga mempertanyakan pemotongan tarif per kilometer yang dahulu Rp 4.000 menjadi Rp 3.000. Demo ini sempat berlangsung sejak tadi pagi di kantor Go-Jek di Kemang, Jakarta.
(rou/rns)