Senin, 09 Nov 2015 06:58 WIB

Waspadai Konten Kebencian di Medsos

Rachmatunnisa - detikInet
Ilustrasi (gettyimages) Ilustrasi (gettyimages)
Jakarta - Di Indonesia saat ini, setidaknya ada tiga isu utama terkait penggunaan media sosial (medsos). Pertama soal keamanan, kedua kreativitas, dan ketiga kolaborasi.

"Dulu, masyarakat mengkritik media seperti koran, TV dan radio jika menyajikan konten yang tidak mendidik. Di era digital, masyarakat dituntut menjalankan kritiknya pada media tersebut," kata Direktur Eksekutif Komunikonten Hariqo Wibawa Satria, melalui keterangannya yang diterima detikINET, Senin (9/11/2015).

Dikatakannya, isu keamanan yang paling disorot adalah, keamanan pengguna medsos itu sendiri, terutama anak-anak dan remaja. Kasus pemerkosaan, penipuan, pembajakan yang dialami pengguna medsos marak terjadi belakangan ini.

Isu keamanan lainnya adalah minimnya pengetahuan pengguna medsos tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Hanya butuh 30 menit membuat akun medsos, tetapi dibutuhkan tahapan yang tidak sebentar untuk mendidik penggunanya agar dapat menggunakannya dengan benar dan bijaksana.

"Sebaiknya sebelum membuat akun medsos kita baca dulu aturannya, jangan asal centang 'agree' saja. Surat Edaran Kapolri mengenai ujaran kebencian juga dalam rangka menjaga keamanan, agar medsos tidak merugikan orang lain," kata Hariqo.

Isu kedua adalah mengenai kreativitas. Dalam isu ini, paling dominan adalah penggunaan medsos selain sekedar mencari teman, seperti untuk tujuan ekonomi, politik, pendidikan, diplomasi dan lain-lain.

"Semakin banyak konten yang di-upload di internet, menunjukan semakin kreatif suatu bangsa. Karenanya, generasi muda Indonesia tidak boleh hanya sekedar menjadi generasi download, tapi juga uploader," sarannya.

Sedangkan isu kolaborasi, menyoroti bagaimana pengguna medsos berkolaborasi dalam hal positif. Hariqo mencontohkan antara lain mempromosikan pariwisata Indonesia dan produk lokal, kolaborasi dalam gerakan anti korupsi, isu lingkungan, serta kolaborasi dalam membela kepentingan nasional.

"Bela negara tidak hanya di darat dan udara, tapi juga di dunia maya. Itu sebabnya beberapa negara punya pasukan cyber. Namun pasukan cyber tanpa dukungan masyarakat negara tersebut juga tidak akan kuat. Kolaborasi ini yang harus ditingkatkan," sebutnya.

Secara khusus mengenai isu keamanan di medsos, baru-baru ini sudah terbit Surat Edaran Kapolri mengenai ujaran kebencian atau hate speech. Komunitas Komunikonten berharap jangan sampai surat edaran ini hanya untuk membungkam atau menakut-nakuti orang-orang yang mengkritik pemerintah, tetapi harus memberikan rasa aman bagi siapapun.

"Intinya apa yang tidak boleh dilakukan di dunia nyata, jangan lakukan di dunia maya. Satu postingan bohong bisa bikin kerusuhan di darat, satu poster fitnah bisa meruntuhkan bangunan NKRI. Hati-hati juga adu domba antar golongan di media sosial. Soal bahayanya ujaran kebencian di media sosial bukanlah hal baru, karena kalau kita baca aturan di Twitter, lebih kurang juga sama," paparnya.
 
Di halaman Support Twitter, layanan mikroblogging ini jelas membeberkan larangan terhadap konten kebencian, topik sensitif, dan kekerasan secara global.

Konten kebencian, yang dimaksud dalam kebijakan ini adalah konten yang menghasut individu, organisasi, atau grup berdasarkan ras, suku bangsa, asal negara, warna kulit, agama, ketidakmampuan fisik atau mental, usia dan jenis kelamin.
 
"Masalahnya, kebanyakan orang membuat medsos dengan cepat, tanpa membaca aturan yang dibuat oleh medsos itu sendiri. Ini mirip dengan kebiasaan kita beli barang elektronik atau obat, tidak membaca buku petunjuk penggunaan, hanya mendengarkan penjelasan dari yang sudah menggunakan, meskipun yang sudah menggunakan juga belum tentu membaca buku petunjuk," kata Hariqo mengibaratkan.

Ditambahkannya, guru, orangtua, para pemuka agama juga harus sering mengingatkan agar masyarakat hati-hati menggunakan medsos dan kritis terhadap informasi di medsos.

(rns/ash)