Uber, layanan aplikasi untuk memesan kendaraan, adalah startup termahal di dunia saat ini dengan nilai diperkirakan USD 50 miliar. Tapi ekspansi mereka ke berbagai negara terus dirundung masalah dan menjadi ancaman bagi bisnis perusahaan asal Amerika Serikat ini.
Dikutip detikINET dari Reuters, Selasa (6/10/2015), razia dan protes terhadap Uber terjadi di mana-mana, termasuk Indonesia. Minggu lalu, polisi menggerebek kantor pusat mereka di Eropa yang berlokasi di Belanda, dua eksekutifnya diseret ke pengadilan Perancis, dan kota Rio de Janeiro di Brasil memastikan Uber tak boleh beroperasi.
Layanan Uber Pop yang memungkinkan orang menyewakan kendaraan pribadi, saat ini dilarang di kebanyakan negara Eropa Barat. Dan di Indonesia, taksi Uber dianggap ilegal dan dikejar-kejar aparat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Uber sangat gencar berekspansi. Didirikan tahun 2009 oleh Travis Kalanick, Uber saat ini beroperasi di sekitar 60 negara. Tapi mereka belum juga meraih untung dan kini harus mengeluarkan tambahan biaya untuk mengurus regulasi atau menghadapi gugatan di pengadilan. Ada bocoran kalau di kuartal II 2014, Uber rugi USD 100 juta
"Uber mengadopsi strategi yang mengejutkan. Tapi saya pikir strategi mereka itu memang sangat berisiko tinggi," demikian pendapat dari Aswath Damodaran, profesor keuangan di New York University.
Namun Uber dan para investornya tetap yakin semua masalah yang mereka hadapi akan teratasi dan perusahaan pada akhirnya sukses besar. Juru bicara Uber menyatakan kalau mereka mengincar pertumbuhan bisnis jangka panjang.
(fyk/fyk)