Penanganan sampah non organik melalui bank sampah mendapat apresiasi para kepala daerah. Cara ini diminati dan sudah berjalan di beberapa daerah, salah satunya Jakarta.
"Sampah non organik meningkat, sehingga dinas kebersihan menggalakkan bank sampah. Jadi warga terdidik memilah sampah, mengumpulkannya untuk kemudian ditabung. Tabungan ini berupa sampah yang nanti bisa diuangkan," kata Mochammad Ghufron, Product Manager PT Cipta Srigati Lestari (CIPTA), perusahaan yang memproduksi smart card.
Saat ini ada sekitar 200 titik bank sampah yang ada di Jakarta. Ke depannya, jumlah titik ini akan ditambah agar semakin banyak sampah non organik yang ditangani, di samping juga agar semakin banyak nasabah bank sampah yang semakin peduli untuk memilah-milih sampah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pencatatan transaksi itu masih manual sekali. Ada yang menyetor dicatat dalam buku tebal dan besar, jadi proses pencatatan lambat. Jumlah uang dan transaksi pun tidak terbuka. Selain itu setiap bulan petugas bank sampah harus melaporkan ke dinas kebersihan, jadi kerja dua kali, memindahkan data dari buku ke komputer dulu," paparnya.
Demi meningkatkan pelayanan dengan proses yang tersistem, Cipta pun menawarkan Sistem Informasi Bank Sampah (SiBAS) untuk menunjang salah satu implementasi smart card untuk smart city.
"SiBAS dibangun agar dapat meningkatkan efisiensi serta efektifitas dalam pengelolaan bank sampah serta pelaporan aktifitas bank sampah kepada pemerintah daerah dengan media smart card dan berbasis komputasi awan (cloud), jadi lebih mudah dalam pengoperasian dan perawatan sistem, serta kemudahan akses dari lokasi dengan koneksi internet," papar Ghufron.
Adapun perangkat yang akan digunakan dalam SiBAS adalah smart card yang akan berfungsi sebagai kartu ATM untuk nasabah, dan smartphone Android dengan fitur Near Field Communication (NFC) yang dipegang oleh petugas bank sampah.
"Petugas bank sampah tinggal tempelkan kartu nasabah bank sampah di smartphone untuk mencatat semua transaksi bank sampah. Jadi pencatatan transaksi lebih cepat," sebut Ghufron.Β
Smart card-nya sendiri menjadi media yang ringkas dan aman untuk penyimpanan data serta pemrosesan transaksi. Bagi nasabah, layaknya kartu ATM, mereka bisa mengetahui jumlah uang dan transaksi yang sudah dilakukan.
Dikatakan Ghufron, kartu ATM untuk bank sampah ini sudah mulai diujicoba di Dinas Kebersihan Provinsi DKI Jakarta. Saat ini, baru 250 smart card digunakan.
Cipta sebagai penyedia smart card untuk bank sampah ini, berencana akan memproduksi sekitar 2 ribu smart card untuk memenuhi kebutuhan implementasi SiBAS di titik-titik bank sampah wilayah Jakarta.
(rns/rns)