Batik Fractal: Go Global Tanpa Mematikan Seniman Tradisional

Hari Batik Nasional

Batik Fractal: Go Global Tanpa Mematikan Seniman Tradisional

Rachmatunisa - detikInet
Jumat, 02 Okt 2015 09:49 WIB
Jakarta -

Pada 2007, tiga sekawan asal Bandung memperkenalkan jBatik. Melalui software ini, mereka menunjukkan bagaimana keunikan teknologi berpadu dengan seni tradisional. Delapan tahun berjalan, bagaimana kabar terbaru pengembangan algoritma matematika untuk membuat corak batik ini?

Nancy Margried, Muhamad Lukman dan Yun Hariadi yang tergabung dalam Piksel Indonesia -- dulu bernama Pixel People Project -- kini semakin sibuk mendukung para seniman batik, terutama di wilayah Jawa dan Bali.

"Saat ini kami melatih sekitar 1.400 seniman batik untuk menggunakan software jBatik. Pelatihan awalnya diadakan oleh pemerintah daerah, di desa-desa di mana banyak para seniman batik tinggal," kata Nancy Margried, CEO Piksel Indonesia kepada detikINET.

Sebagai sebuah inovasi, dikatakan Nancy bahwa pengaplikasian software pada seni tradisional memerlukan pelatihan yang intensif dan berkelanjutan.

Bekerjasama dengan pemerintah lokal maupun nasional, Nancy dan kedua rekannya memungkinkan para seniman bisa mendapatkan software jBatik dan pelatihan dasar secara gratis.

Dari segi bisnis teknologi, Piksel Indonesia juga menciptakan fashion batik fractal, di mana para seniman batik tradisional yang diberi pelatihan, ikut ambil bagian sebagai pemasok kain batik.

"Kami membeli bahan batik dari para seniman ini lebih tinggi 20-50% dibandingkan harga yang biasa dibayarkan tengkulak," kata Nancy.



Tembus Pasar Internasional

Peminat fashion batik fractal rupanya banyak. Keunikan corak batik yang dibuat menggunakan software menjadi daya tariknya. Nancy memang mencantumkan proses desain batik fractal di semua produknya, sehingga konsumen tahu bahwa desainnya menggunakan software.

Yang menarik, peminatnya justru lebih banyak dari luar negeri. Alasan ini pula yang membuat Nancy menunda dulu rencana membuka butik di beberapa kota besar di Indonesia.

"Kelihatannya sekarang fokus dulu di ekspor deh. Demand-nya lebih besar. Permintaan paling besar dari Australia dan Kanada," sebutnya.

Dikatakan lulusan Universitas Padjadjaran Bandung ini, pasar batik untuk skala internasional masih sangat besar. Di Indonesia, orang bisa dengan mudah mendapatkan batik. Sedangkan di luar negeri tidak banyak. Potensi ini membuatnya gigih membidik pasar luar negeri.

"Dan batik Indonesia yang bisa tembus pasar internasional itu gak banyak. Jadi marketnya masih luas banget di luar negeri. Sebagai pengusaha ya kita memang harus jeli lihat peluang. Walaupun effort-nya cukup besar untuk bisa ekspor kita jabanin aja," kata Nancy semangat.

Software jBatik kini juga diperjualbelikan di situs batikfractal.com. jBatik tercatat sudah menembus lebih dari 1.600 download. Bahkan rencananya, ketersediaannya akan diperluas menjadi aplikasi smartphone. Namun bagi Nancy dan dua rekannya di Piksel Indonesia, yang terpenting adalah bagaimana software buatan mereka bisa memberdayakan seniman batik.

Kini, para seniman batik tradisional tak hanya punya akses ke teknologi dan menggunakannya untuk mengembangkan batik mereka, tetapi juga membuktikan bahwa mereka berkontribusi dalam meningkatkan produktivitas dan penjualan.

(rns/ash)