Seorang pengguna bernama Wilford Raney, mengajukan gugatan ke pengadilan San Francisco, Amerika Serikat. Dia menuding Twitter menggunakan algoritma tertentu untuk mengintai pengguna.
Pengawasan rahasia ini diduga terjadi ketika pengguna menyertakan hyperlink di dalam pesannya. Dalam tuntutannya, Raney mengklaim algoritma Twitter menggantikan hyperlink apapun dengan link yang sudah dikustomisasi Twitter.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Raney, praktik ini memungkinkan Twitter melacak link untuk pengiklan dan bisa diidentifikasi sebagai sumber trafik bagi mitra potensial.
Namun Twitter sendiri sebenarnya sudah mengakui bahwa pihaknya melacak link tweeps -- panggilan akrab pengguna Twitter. Hal ini disebutkan di salah satu poin pada halaman Privacy Policy.
"Kami melakukan ini untuk membantu meningkatkan layanan kami, sehingga menghadirkan iklan yang lebih relevan, dan bisa membagi statistik jumlah klik," tulisnya.
Bulan lalu, Twitter menghapus batasan 140 karakter di Direct Message. Ini menjadi keuntungan bagi pengguna yang memerlukan obrolan privat dengan pesan panjang.
(rns/ash)