Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network
detikInet
Perang Harga & Saling Bajak Bikin Seru e-Commerce Indonesia

Perang Harga & Saling Bajak Bikin Seru e-Commerce Indonesia


Ardhi Suryadhi - detikInet

Kusumo Martanto (ash/detikINET)
Jakarta -

Seru! Demikian komentar singkat Chief Executive Officer Blibli Kusumo Martanto saat ditanya soal persaingan bisnis e-commerce Indonesia saat ini.

Banyak pemilik lapak online baru yang masuk justru tak membuat Kusumo was-was untuk menghadapi persaingan. Selama kompetisi itu dijalankan secara jantan, bukan cuma datang untuk membuat onar pasar.

"Semakin banyak yang masuk justru membuat persaingan semakin seru, hopefully kalau mereka serius. Jangan cuma datang dan merusak harga. Ada yang kaya gini, kalau yang begitu ya agak seram," Kusumo saat berbincang santai dengan sejumlah media di Jakarta.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Diharapkan, dengan banyaknya pemain di bisnis jual beli online justru juga dapat memberikan edukasi ke pasar dengan lebih luas lagi. Karena meski sudah dirintis beberapa tahun lalu, bisnis e-commerce Indonesia dianggap masih kecil.

"Masih besar peluangnya, sekarang e-commerce masih sekitar 1% dari total retail. Masih kecil sekali, tetapi potensinya masih besar juga. E-commerce China saja baru 10% dari total retail," ungkapnya.

Ketika edukasi semakin gencar dan kian diterima pasar maka kini tinggal masing-masing pemain e-commerce untuk meracik strateginya agar bisa dipilih.

Kompetisi yang ketat seperti sekarang ini, kata Kusumo, justru akan membuat orang-orangnya semakin kreatif dalam mencari solusi. "Karena kadang-kadang kan orang jadi kreatif karena kepepet," tukasnya.

Namun persaingan yang ketat juga bisa menimbulkan munculnya perang harga dan promosi. Namun Kusumo mengaku jika Blibli tak mau larut dengan perang harga yang tiada akhir.

Sebaliknya, BliBli lebih mengandalkan layanan prima untuk bisa menggaet pelanggan. Adapun raksasa e-commerce dunia -- Amazon -- menjadi acuan Blibli yang merupakan mal online yang didirikan oleh PT Global Digital Niaga (GDN) yang bernaung di bawah Global Digital Prima (GDP) Venture tersebut.

"Service kita ingin seperti Amazon, jadi gak melulu soal price, price dan price," ujar Kusumo.

Layanan andalan Blibli beberapa di antaranya janji untuk menjual barang asli, cicilan 0%, serta pengiriman gratis ke seluruh wilayah Indonesia dengan batas maksimal 20 kg.

Munculnya e-commerce baru pun menimbulkan persaingan memperebutkan tenaga kerja. Ya, pembajakan terhadap karyawan kompetitor tak bisa dielakkan. Hal ini pun sempat mendera karyawan Blibli.

"Banyak tawaran yang masuk (ke karyawan Blibli). Ada yang minta waktu ke saya, dan bilang ada tawaran interview dengan perusahaan lain. Saya tahu sekali tawarannya (gaji-red.) bisa berkali-kali lipat," kata Kusumo.

Namun, pria asal Semarang itu meyakinkan jika turn over karyawan Blibli tergolong kecil, lantaran tak semuanya kena bujuk rayu tawaran gaji tinggi dari perusahaan lain. "Kita menerapkan konsep fun profesional. Di tempat kerja kita santai, tanpa sekat tinggi di antara atasan dan bawahan dan mereka bisa minta waktu saya kapan pun. Tapi saya juga demanding soal pekerjaan," pungkasnya.

(ash/fyk)







Hide Ads