Situs e-commerce terbesar dunia, Amazon, jadi bahasan lantaran dituding memperlakukan pegawai dengan kejam, bahkan mereka yang menempati posisi tinggi. Banyak yang mengkritik, tak sedikit pula yang membela praktek Amazon itu.
"Amazon menyempurnakan model bisnis Amerika, bekerja siang dan malam. Mereka hanya lebih baik dari yang lain," sebut Sydney Finkelstein, profesor manajemen dari Dartmouthβs Tuck Center for Leadership yang dikutip detikINET dari Huffington Post, Selasa (18/8/2015).
"Mereka ini ada di puncak dalam hal bagaimana masa depan dunia kerja di Amerika, mereka adalah contoh yang bagus soal bagaimana situasi kerja di masa depan dan itu bukanlah hal yang bagus," tambah Sydney.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Persaingan kerja di sana memang begitu ketat, tak terkecuali di Amazon. Jika performa seorang pekerja buruk, ia bisa saja sewaktu-waktu tersingkir dan digantikan yang lain.
"Jika kamu tidak mampu memberikan semuanya, 80 jam per minggu, mereka melihatnya sebagai kelemahan yang besar," kata Molly Jay, mantan karyawan Amazon.
"Candaan di tempat kerja adalah ketika berbicara soal keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan, pekerjaan adalah yang pertama, kehidupan kedua dan mencoba menemukan keseimbangan adalah yang terakhir," tutur Jason Merkoski, mantan karyawan yang lain.
Di masa lalu, perusahaan di AS mungkin banyak yang menghargai loyalitas, misalnya dengan memberikan pensiun. Sekarang karyawan di banyak perusahaan harus saling sikut agar tidak dipecat dan bekerja sangat keras agar dinilai tinggi.
Dilaporkan oleh New York Times banyak karyawan menangis di Amazon karena tekanan kerja. Itupun dinilai bukan sesuatu yang luar biasa di AS. Karyawan di perusahaan seperti Goldman Sachs juga dikatakan banyak yang menangis di kantornya.
Dan tentu, tidak semua karyawan Amazon tak betah bekerja di sana. Bahkan ada yang memuji kalau kondisi kerja di Amazon membuat mereka bekerja sebaik-baiknya.
"Amazon memang bukanlah tempat untuk bersenang-senang. Amazon adalah sebuah budaya workaholic yang memicu diri mereka sendiri," ucap Lydia Leong, analis di Gartner. (fyk/ash)