Ekonomi kreatif, setidaknya di Kota Bandung, sejak lama ditandakan antara lain berbasis konten digital berjejaring dengan dipimpin anak muda yang berani mengambil jalan beda, tapi sekaligus memelopori cara baru dalam berbisnis.
Β
Konkulasi itu bisa dilekatkan Inas Luthfi, anak muda 26 tahun, yang juga pendiri sekaligus CEO Nightspade (PT Nightspade Multi Kreasi). Boleh dibilang, jauh sebelum game developer bertebaran pada banyak kota di negeri ini, Inas termasuk salah satu pendahulunya.
Selain mengawali dari sisi waktu, Nightspade juga kerap memelopori teknologi mutakhir. Teranyar, seperti bermain game menggunakan sensor wajah (Anda cukup menggeleng, mengangguk, bahkan meracau mulut saat bermain) hingga gerakan tangan seperti video berikut:
Tentu saja bukan sekadar keren, namun faktanya permainan semacam ini bahkan sudah dipesan perusahaan raksasa teknologi informasi, Intel (cabang India), ke Nightspade belum lama ini, sehingga kian menguatkan jejak Inas cs sebagai pemain global.
Ya, sejak memulai embrio usaha tahun 2009, interaksi dengan klien internasional menjadi bidikan utama Inas dan tiga pendiri lainnya -- yang dulunya kawan seangkatan di Teknik Informatika ITB. Berbagai pencapaian bagus kemudian mengiringi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Β
Tak kalah fenomenal, dan yang pertama mencuatkan Nightspade, adalah ketika Stack the Stuff (permainan sejenis Tetris namun lebih menarik) pada tahun 2010 diunduh sekira 250.000 di App Store dengan mayoritas pengguna malah dari Amerika Serikat, Eropa, dan Australia.
Mereka juga menjalin kerjasama dengan migg33, pemain besar di ranah aplikasi asal Singapura yang hendak memperkokoh pasar utamanya di Asia Tenggara dan Timur Tengah. Jadi, kata Inas, 90% klien Nightspade justru berasal dari luar negeri, utamanya Amerika Serikat, China, Singapura, dan Jepang.
Jangan tanyakan prestasi kompetisi. Paling mutakhir Juara II dunia Intel RealSense App Challenge 2015 dan Juara I Indigo Apprentice Award 2015. Lalu, INAICTA 2011 dan 2013, Sparx Up 2011, dan APICTA 2011. Semuanya berawal dari juara utama kategori game di kampus, ITB Digital Media Festival 2009.
Mereka juga memperoleh apa yang banyak didamba startup: Suntikan modal dari angle investor dengan skema tak memberatkan. Menariknya, mereka malah didatangi tanpa perlu kirim proposal. Mulai tahun 2011, investor digital ternama, East Venture, menginjeksi modal kerja.
Berawal dari Tugas Kuliah
Semua kemajuan pesat ini, dalam usia Nightspade yang baru lima tahun, bermula dari perkawanan erat. Pria asal Solo ini mengisahkan, awalnya dia bersama enam teman sekelas pada semester 6 Teknik Informatika ITB mendapat tugas kuliah pemrograman berorientasi obyek.
Waktu itu, mereka sepakat membuat game OC. Dari kelompok tugas kuliah inilah muncul ide membuat game sebagai usaha komersial. Awalnya, mereka menamai usaha mereka dengan Night Club Coder, namun kemudian berubah guna mengikis kesan negatif.
Setelah lulus, 2 dari 7 pendiri keluar karena kuliah dan bekerja di tempat lain. Sementara yang masih terus bersama Inas sekarang dan jadi motor Nightspade adalah Doddy Dharma (Chief Technical Officer), Garibaldy W. Mukti (Chief Marketing Officer), dan Teddy Pandu Wirawan (Chief Operating Officer).
βDengan modal patungan, kami semula membuat beragam program aplikasi internet dan ponsel pintar. Palugada lah (apa loe mau gua ada). Pernah membuat aplikasi news reader. Namun setelah ikut program Inkubator Digital I2TB (Inkubasi Inovasi Telematika Bandung), fokus ke aplikasi interaktif,β kata Inas.
Lantas, setelah pada lulus kuliah di tahun 2010, mereka makin memfokuskan diri bergerak hanya di game. Tak disangka, konsep game besutan mereka diminati pengembang asal Amerika Serikat dan dibeli putus seharga 8.500 dolar waktu itu.
Β
Selepas itu, umpama air bah, gulirannya bukan hanya mengalir, tapi juga terus menggelinding besar. Selain terus menerima banyak pesanan global -- karena pesanan dalam negeri kerap tak masuk harganya, mereka juga aktif memproduksi permainan bagi end user.
Selain Stack The Stuff, ada Mad Warrior, Don Gravity, Taby The Little Mouse, Air Heroes, Nuclear Outrun, dan Animal Pirates. Karyawan pun kini sudah belasan orang dengan kantor cukup representatif di Cigadung, di kawasan Bandung Utara yang sejuk.
Kru Nightspade
Meski makin melanglang buana secara korporasi, menariknya Inas mengaku tetap lebih puas membuat permainan digital yang dibuat dengan idealisme sendiri untuk kemudian ditujukan kepada gamer secara langsung yang umumnya sangat kritis.
"Kritik dan saran apapun dari gamer bisa membantu mengembangkan kami. Kritikan ini menjadi kepuasan yang tak ternilai bila banyak orang memainkan permainan kami dan mereka mau memberi tanggapannya," ujar ayah dari sebuah keluarga muda ini.
Well, bolehlah kita berharap banyak dari anak muda Indonesia pionir pemimpin bisnis digital ini semacam Inas ini. Sekiranya konsisten, mungkin saja kelak lahir dari Tanah Air figur seperti Mark Pincus (pendiri Zynga, pengembang FarmVille, Mafia Wars, dst).
*) Penulis, Muhammad Sufyan Abd. merupakan pemerhati bisnis digital dan Dosen Fak. Komunikasi Bisnis Telkom University.