Ramai Pro Kontra Islam Nusantara di Twitterland

Kolom Telematika

Ramai Pro Kontra Islam Nusantara di Twitterland

Penulis: Arli Aditya Parikesit - detikInet
Senin, 22 Jun 2015 10:54 WIB
Ilustrasi (gettyimages)
Jakarta -

Di bulan Ramadan, kicauan di linimassa Twitter diramaikan dengan isu Islam Nusantara. Apa itu Islam Nusantara? Sebenarnya bukan hal baru. Konsep ini dipopulerkan dan diperkenalkan oleh Nahdlatul Ulama (NU).

Ada beberapa definisi Islam Nusantara, namun definisi yang paling sederhana menurut ketua PBNU, KH Said Aqil Siraj adalah "Islam Nusantara pada prinsipnya adalah penghargaan budaya di tengah ritus keagamaan. Kami ingin kedua hal ini berdampingan,"

Akun Twitter Promosi Islam Nusantara

Berhubung Islam Nusantara adalah wacana yang berasal dari NU, maka tidak heran jika akun Twitter yang mempromosikannya memang adalah dari NU. Boleh dibilang, NU memiliki gerakan yang sangat solid dan terkordinir untuk mempromosikan ide-ide mereka di media sosial.

Berikut ini adalah beberapa akun Twitter yang sangat aktif mempromosikan Islam Nusantara: @sulthanfatoni, adalah akun twitter dari Muhammad Sulton Fatoni, Wakil Ketua PBNU.

Beliau meretweet beberapa contoh Islam Nusantara dari @iwan_madari, seperti ugderan di Semarang menjelang Ramadan, syawalan/bada kupat di Kendal, sayyang pattuduq di Mandar, Sulawesi Barat pada perayaan maulid & khataman Al Quran.

Tidak hanya itu, @sulthanfatoni juga menjelaskan beberapa contoh Islam Nusantara seperti di Bali, masyarakat Hindu biasa menyediakan rumah yang ada pura-nya untuk tokoh Islam yang ingin tinggal, dan di Fak-Fak Papua Barat, setiap peringatan keagamaan (Islam & Kristen) kedua umat beragama tersebut saling membantu.

Sementara itu, menurut @candramalik, 'Nusantara adalah anugerah yang tak bisa dipungkiri dan Islam adalah hidayah yang tak bisa diingkari' dan 'Islam adalah tulang sumsumku, Nusantara adalah darah dagingku. Menyatu dalam jiwa ragaku'.

Tentu saja @nu_online, akun resmi NU Online, adalah akun yang paling banyak mempromosikan Islam Nusantara, karena merupakan corong resmi dari kebijakan NU itu sendiri. @nu_online lebih banyak memposting artikel dari web nu.or.id.

Yang luar biasa dari aktivitas para 'pendekar cyber' dari NU ini adalah konsistensi mereka dalam mengetweet mengenai Islam Nusantara. Walau dibombardir dengan berbagai resistensi, mereka pantang mundur, dan maju terus dengan pendapatnya. Hal ini patut diapresiasi. NU, sebagai organisasi yang besar, tentu juga memiliki oposisi. Pendapat mereka akan dirangkum pada bagian berikutnya.

Kontra Terhadap Islam Nusantara di Twitter

Ada beberapa akun yang secara terbuka kontra terhadap Islam Nusantara, di antaranya @ssirah, @hafidz_ary, dan @robbysnt. Walaupun ada juga beberapa akun lainnya, mereka diambil sebagai perwakilan. Saya akan mencoba merangkum beberapa kritikan mereka yang paling sering disuarakan.

Pertama, Islam Nusantara dikritik terlalu 'Jawa', karena mengambil contoh Wali Songo sebagai ikon Islam Nusantara. Kedua, Tidak ada Islam Nusantara, Islam Arab, atau lainnya. Hanya ada satu Islam. Ketiga, Islam Nusantara dianggap kreasi kaum 'liberal', yang disokong Amerika Serikat dan Negara-negara barat untuk memecah-belah Islam.

Keempat, salah satu definisi Islam Nusantara dianggap sebagai 'Vickiisasi', karena bahasa yang digunakan cenderung tidak jelas dengan menggunakan kata serapan yang terlalu banyak. Terakhir, kelima, Islam Nusantara tidaklah murni berasal dari Indonesia, sebab juga didominasi elemen asing seperti unsur India dan China.

Pendekar cyber yang kontra Islam Nusantara ini tidak kalah hebat. Mereka habis-habisan memutar otak mereka untuk mementahkan konsep Islam Nusantara. Bahkan seperti @robbysnt mengutip pendapat orientalis William McCants untuk mendebat proponen Islam Nusantara. Kegigihan mereka untuk memperjuangkan pendapat patut diapresiasi.

Quo Vadis Islam Nusantara?

Suatu wacana hanya dapat bertahan ketika dibenturkan dengan wacana lain. Terjadilah dialektika, dan bahkan suatu sintesa terhadap terbentuknya wacana baru. Dibenturkannya Islam Nusantara dengan wacana kontra adalah bagian dari proses dialektika itu sendiri.

Kontra terhadap Islam Nusantara adalah sangat baik, sebab berfungsi sebagai ujian terhadap wacana itu sendiri. Jika tahan uji, maka Islam Nusantara memiliki masa depan yang baik. Aktivis pro dan kontra Islam Nusantara sebaiknya berdebat dengan baik dan sehat, dengan memperhatikan hukum yang berlaku di negara ini, terutama dalam konteks UU ITE yang mengandung pasal 'pencemaran nama baik'.

Indonesia sebagai negara demokrasi membuka ruang seluas-luasnya terhadap pro dan kontra wacana Islam Nusantara. Kita masih ingat dengan perdebatan mengenai dasar negara di dewan konstituante pada tahun 50an, dimana setelah debat sengit, para politisi yang berbeda pendapat tersebut makan siang bareng, bahkan pulang ke rumah bareng-bareng.

Tanpa sedikitpun ingin kembali ke masa itu yang dibayangi oleh pertikaian senjata dengan sesama anak bangsa, Founding Father kita sudah mengajarkan untuk tetap berkepala dingin dalam perdebatan sengit sekalipun, dikala negara dalam keadaan genting.

Dengan adanya aplikasi Twitter, perdebatan seru ala dewan konstituante dibawa ke dunia maya. Walaupun perdebatan mengenai dasar negara adalah masa lalu yang tak mungkin terulang, namun ada hal-hal lain yang tetap terbuka untuk diperdebatkan. Bagaimanapun, kita akan melihat bahwa Islam Nusantara menjadi wacana yang selalu menarik untuk diperdebatkan.

Di sini, pengguna Twitter yang akan diuntungkan dalam perdebatan intelektual ini, karena yang memiliki argumen paling cerdas dan mencerahkan, maka akan diikuti oleh para Tweeps.



Arli Aditya ParikesitTentang Penulis, Dr.rer.nat Arli Aditya Parikesit adalah alumni program Phd dalam bidang Ilmu Komputer dari Universitas Leipzig, Jerman; Dosen Tetap pada STAI Al-Hikmah Jakarta, Peneliti dan Dosen Luar Biasa di UI. Ia bisa dihubungi melalui akun @arli_par di twitter, https://www.facebook.com/arli.parikesit di facebook, dan www.gplus.to/arli di google+.





(ash/ash)