Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network
detikInet
#dnewgeneration
Pengusaha Sampai Pegawai Bank Nyambi Jadi Tukang Ojek Digital
#dnewgeneration

Pengusaha Sampai Pegawai Bank Nyambi Jadi Tukang Ojek Digital


Adi Fida Rahman - detikInet

Ilustrasi (gettyimages)
Jakarta -

Kemacetan yang melanda Jakarta setiap harinya sukses melahirkan peluang baru, tukang ojek digital. Uniknya, pelaku profesi ini beragam -- tak cuma tukang ojek yang biasa mangkal -- orang kantoran juga kerap nyambi.

Go-Jek bisa dibilang sebagai pelopor tukang ojek digital ini. Bila sebelumnya untuk mencari ojek kita harus mencari ke pangkalan terlebih dulu. Kini cukup lewat aplikasi di smartphone, kita dapat memesan ojek. Tak perlu capek tawar-menawar, karena tarif telah ditetapkan layaknya argo taksi.

Di lain sisi, kemunculan Go-Jek turut pula membawa perubahan pada pengemudi ojek itu sendiri, khususnya dari sisi perekonomian. Hal tersebut dirasakan oleh Suyono.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sejak bergabung lima bulan lalu di Go-Jek, tukang ojek yang kerap mangkal di sekitar Menara Imperium, Setiabudi, Jakarta ini mengaku pendapatannya meningkat. "Kalau ojek biasa ada saatnya sepi, apalagi hari Sabtu dan Minggu. Sejak gabung, tiap hari ada orderan," ujar pria 42 tahun ini.

Dulu sebelum bergabung, dalam sehari Suyono hanya mampu membawa pulang uang Rp 120 ribu. Semenjak go digital, dirinya dapat mengantongi pendapatan minimal Rp 150 perharinya.

Hal yang sama dirasakan Mohammad Ihsyan. Profesinya sebagai satpam bank di kawasan Fatmawati diakuinya kurang mencukupi kebutuhan keluarga. Akhirnya ia coba nyambi ngojek lewat Go-Jek. Ihsyan kerap ngojek setelah jam tugasnya selesai atau saat libur.

"Kalau lagi tugas, cuma bisa dapat 2-3 penumpang. Kalau libur bisa sampai 10," ungkap pria yang berdomisili di Menteng Atas ini.

Meski hanya sekadar sampingan, namun pendapatan yang diraih Ihsyan terbilang tak sedikit. Dalam sebulan ia mampu meraih lebih dari Rp 2 jutaan. "Sekarang perekonomian keluarga gak ancur-ancuran lagi. Malah bisa menabung," ujar pria berumur 37 tahun ini.



Niat nyambi juga dilakoni Mulyadi. Pengusaha ikan dan akuarium ini membuatnya memiliki waktu luang. Akhirnya ia menjadi tukang ojek digital karena waktu kerjanya fleksibel dan santai. Sehingga masih leluasa menengok usahanya yang berlokasi di Jl Sumenep kapanpun.

Dari segi pendapatan, Mulyadi mengaku pundi-pundi keuangannya bertambah meski baru dua minggu bergabung. Dalam sehari, rata-rata bisa mengangkut 10 penumpang dengan jam operasi dari pukul 9 pagi hingga 8 malam. "Kalau bisa bawa lebih dari 10 penumpang per hari bisa dapat tambahan insentif," ungkap pria berusia 36 tahun ini.

Lain cerita dengan Alchatiri, ia bergabung denga Go-Jek bukan karena alasan ekonomi. Sebab pendapatannya sebagai marketing sebuah bank jauh lebih tinggi dibanding penghasilannya sebagai tukang ojek.

Meraih pendapatan belasan juta rupiah, rupanya tidak membuat jiwa Alchatiri tenang. Ia pun memutuskan untuk berhenti dan banting stir menjadi tukang ojek digital.

Meski baru dua bulan bergabung, Alchatiri mengaku sudah merasakan perubahan hidup. Ia makin bisa mensyukuri hidup dan merasa lebih tenang dari sebelumnya.

"Apapun yang saya dapat kini terasa lebih nikmat dan lebih berkah. Saya pun lebih banyak belajar bersyukur dan saling menghargai," ujar pria berusia 34 tahun tersebut kepada detikINET.

(ash/ash)







Hide Ads