Jumat, 19 Jun 2015 09:24 WIB

#dnewgeneration

Aqsath, CEO Muda Pembuat Aplikasi Pengolah Data

Penulis: Muhammad Sufyan - detikInet
Aqsath Rasyid Naradhipa (dok. pribadi) Aqsath Rasyid Naradhipa (dok. pribadi)
Bandung - Penampilan Aqsath Rasyid Naradhipa tak ubahnya seperti anak muda Bandung lainnya. Namun siapa sangka, pria 25 tahun ini sudah menjadi CEO NoLimit, perusahaan pembuat aplikasi pemrosesan media sosial dan big data yang bermarkas di bilangan Cipedes, Sukajadi, Kota Bandung.

Didirikan sejak masih kuliah yakni Juni 2012 bersama tiga kawan kuliahnya di Teknik Informatika ITB, NoLimit kini termasuk salah satu penyedia terkemuka di bidang ini. User-nya tak tanggung-tanggung! Presiden SBY saat masih menjabat, termasuk yang sempat berkonsultasi.

Selain itu, dari jajaran perusahaan, ada Microsoft Indonesia, Kacang Garuda, Super O2, Nokia, Honda, Racounter, dst. Layananya juga kerap jadi mitra agen pemasaran dan merek seperti Marketbiz Media, XM Gravity, Inmark Digital, hingga media massa (Majalah Gatra dan Pikiran Rakyat).

Kebanyakan dari mereka meminta dibantu analisis, terutama tentang bagaimana persepsi netizen akan jasa/produk miliknya, termasuk tentang cara bersaing di ranah media sosial. Beberapa meminta cara menaikkkan follower dengan mengacu data sainstifik.

NoLimit semula menyediakan aplikasi tersebut dalam menganalisis percakapan pada media sosial. Perbedaan utamanya dengan yang lain, aplikasi ini sudah bisa mengkategorikan sentimen positif, netral, dan negatif. Termasuk memproses kata-kata alay.

“Kita kuat di bahasa Indonesia, aplikasi pesaing karena buatan coder luar negeri, sering kesulitan mengklasifikan sentimennya. Karena buatan lokal pula, otomatis tarif yang kami tawarkan juga lebih kompetitif,” ujar pria lajang ini.

Menurut Aqsath, secara konkret, pemrosesan data kicauan/status itu diawali dengan 'mencolokkan' peranti lunak buatannya ke akun media sosial. Selang dua jam kemudian, secara daring (dalam jaringan) akan muncul dashboard detail yang bisa diakses kapan dan di mana saja.

Isinya? Akan tergambarkan jam berapa saja percakapan yang ramai dan atau sepi di sebuah akun, berapa kali di-mention warga dunia maya, siapa saja yang berkicau merek kita, apa tema teramai, bagaimanakah sentimennya, hingga data sejenis dari kompetitor kita.

Alhasil, siapapun bisa lebih memahami pelanggan/komunitas yang dibidik. Lebih jauhnya lagi, NoLimit bisa merekomendasikan jam berapa saja admin media sosial harus berkicau agar efektif dan bisa menjadi trending topic di linimasa secara keseluruhan.

Dia kemudian mencontohkan makanan ringan Garudafood, yang awalnya memiliki pengikut 1/4 dari pesaingnya. Setelah ditinjau, salah satu penyebabnya karena lambannya respons yang diberikan admin media sosial sehingga netizen banyak kecewa.

“Kami lalu ambil alih selama empat bulan. Kami lihat pola kompetitor, misalnya cara menjawab dan bikin kuis. Kami terapkan dengan modifikasi. Hasilnya di bulan keempat, follower riil Garudafood sudah bisa melampaui pesaingnya,” kata pemenang Startup Penn Olson tingkat Asia 2011 ini.

Kini, seiring dengan terus penambahan fitur dan protokol keamanan standar tinggi macam Oauth, tarif jasa mereka mulai dari Rp 10 juta per jenis layanan. Lebih canggih lagi, aplikasi manajemen big data (tak lagi terbatas media sosial), juga sudah bisa mereka berikan.

Sekalipun makin profesional, secara berkala NoLimit kerap membuat hasil survei cuma-cuma mengikuti momentum. Misal ketika kata galau pertama menggema di tanah air, mereka analisa dengan hasil antara lain kata ini terbanyak muncul di malam hari, oleh pelajar, dst.



“Kami juga mencoba berkontribusi ke Bandung dengan membuat suarabandung.com. Ini semacam potret atas kinerja akun media sosial dinas-dinas yang sudah diwajibkan dibuat Walikota Bandung Ridwan Kamil. Akan terlihat serespons apa dinas tersebut atas complain warga,” katanya.

Lalu, inovasi terbarunya NoLimit Care, yakni piranti manajemen service center perusahaan di media sosial, sehingga kebijakan diambil berbasis data valid. Kita memang sudah bukan hidup di era dukun atau wangsit Gunung Kelud, apapun keputusan mesti didasarkan data-data penuh makna.

*) Penulis, Muhammad Sufyan Abd. merupakan pemerhati bisnis digital dan Dosen Fak. Komunikasi Bisnis Telkom University.

(ash/ash)

-

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed