Seperti dilansir The Independent, Kamis (21/5/2015), Twitter akan menghapus sekitar 10 juta akun. Jika tidak demikian, Twitter sama saja dengan membiarkan sumber pendapatannya dari iklan kabur begitu saja.
Sebelumnya, para pengiklan memprotes soal banyaknya konten dewasa di situs mikroblogging tersebut. Hal ini bisa memberi konsekuensi negatif pada brand karena mempengaruhi persepsi konsumen dalam menerima kampanye iklan mereka.
Kasus terbaru melibatkan Nielsen. Perusahaan digital data dan siaran televisi Amerika Serikat ini terpaksa menunda kampanye iklan mereka di Twitter setelah sejumlag tweet yang muncul di halaman profil mereka berisi konten cabul.
Lebih jauh lagi, Twitter diminta untuk memperketat aturannya yang berkaitan dengan larangan memposting foto profil tidak senonoh. Meski sudah ada larangan, masih banyak pengguna Twitter yang lolos aturan ini.
(Rachmatunisa/Fino Yurio Kristo)