Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network
detikInet
Pdkt Google-Twitter & 'Kasih Tak Sampai' Microsoft-Yahoo

Pdkt Google-Twitter & 'Kasih Tak Sampai' Microsoft-Yahoo


- detikInet

Ilustrasi (gettyimages)
Jakarta -

Menjadi pesaing tak lantas harus terus-terusan bermusuhan. Siapa tahu suatu hari nanti kedua pesaing bisnis tersebut malah menjadi aliansi, bergabung dalam satu perusahaan yang sama.

Tak peduli perusahaan itu masuk dalam kategori raksasa atau perusahaan kelas teri. Tak ada yang tahu nasib suatu perusahaan. Jika angin keberuntungan atau keterpurukan sudah berhembus, sulit mengelaknya.

Akuisisi masih menjadi jalan pintas untuk menguasai suatu sektor industri. Di bidang teknologi, satu perusahaan mencaplok perusahaan lain bahkan sudah menjadi agenda rutin.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Cerita terbaru menghadirkan Twitter sebagai target akuisisi. Pembidiknya adalah raksasa teknologi Google. Baik Twitter ataupun Google memang masih menyimpan misteri penjajakan antar kedua perusahaan, namun isu ini bak kembali membuka kisah lawas dua raksasa teknologi lainnya, yakni Microsoft dan Yahoo.

Pada tahun 2008, dunia teknologi digegerkan dengan berita ketertarikan Microsoft untuk membeli Yahoo. Yahoo yang dulu jauh lebih perkasa dibandingkan yang sekarang bak tenggelam dengan dominasi Google. Yahoo di masa lalu justru menjadi lawan tanding seimbang bagi Google.

Sehingga jalan pintas Microsoft untuk menguasai bisnis pencarian internet terlihat begitu jelas dengan cara mengakuisisi Yahoo. Memang, Microsoft telah memiliki mesin pencari Bing -- yang kemudian berganti nama menjadi Windows Live Search -- namun harapan tinggi yang ditetapkan jauh dari kenyataan.

Alhasil, strategi membeli mesin pencari terbaik nomor dua -- Yahoo -- pun dianggap CEO Microsoft Steve Ballmer saat itu sebagai jalan paling realistis agar tak semakin tertinggal dari Google. Bahkan Microsoft disebut sudah punya strategi ciamik untuk mengkolaborasikan search engine Yahoo nantinya dengan layanan iklan online yang dimiliki Microsoft.

Namun seakan kasih tak sampai, di akhir cerita, pendekatan yang dilakukan Microsoft gagal, Yahoo tak jadi dijual. Microsoft kecewa? Jelas. Namun kekecewaan tersebut tak lama kemudian mungkin bisa dibilang jadi sebuah 'keberuntungan' setelah beberapa lama setelahnya justru bisnis Yahoo menukik tajam. Business Insider melansir, nilai saham Yahoo sudah turun sampai setengahnya.

"Kadang-kadang Anda memang beruntung," singkat Ballmer di tahun 2011 mengomentari anjloknya bisnis Yahoo, seperti dilansir Business Insider.

Setelah cerita pdkt Microsoft-Yahoo berlalu, kini kisah serupa coba diukir oleh Google-Twitter. Area bisnis yang ingin digarap berbeda, bukan mesin pencari, melainkan media sosial.

Tetapi masalahnya sama, Google merasa tak dapat bersaing dengan Facebook di sektor media sosial. Memang, mereka sudah punya Google+, hanya saja pertumbuhannya lambat. Sebaliknya, Facebook justru semakin meraksasa di jagat internet, mulai dari mengakuisisi berbagai layanan populer -- seperti WhatsApp dan Instagram -- sehingga sukses menggaet jutaan bahkan miliaran pengguna, dan otomatis menghasilkan mesin penghasil uang yang tokcer.

Google tentu tak mau membiarkan Facebook panen sendirian di bisnis media sosial, sehingga jalan singkat untuk menggoyang situs milik Mark Zuckerberg itu lewat akuisisi Twitter bisa menjadi pilihan.

Memang, Twitter masih kalah besar dari Facebook. Namun coba bayangkan, dengan status media sosial terbesar nomor dua di dunia dan dukungan dari layanan milik Google lainnya, tentu bisa membuat Facebook ketar-ketir.

Analis Pivotal Research Group Brian Wiesner menyatakan, sangat masuk akal jika Twitter saat ini menjadi komoditi akuisisi yang paling menjanjikan dengan berbagai alasan.

"Namun untuk saat ini masih sulit untuk mempercayai (langkah akuisisi tersebut) tanpa melihat bukti-bukti yang lebih nyata," lanjutnya seperti dikutip dari USAToday.

Patut ditunggu langkah nyata Google meminang Twitter. Dan jujur saja, Google memang butuh tambahan amunisi untuk memburu Facebook jika ingin bersaing di ranah media sosial. Tinggal mereka yang memutuskan, apakah mau mengeluarkan dana USD 34 juta untuk mendapatkan Twitter atau malah membiarkan situs mikroblogging itu terbang seorang diri, sambil berharap Twitter takkan menjadi raksasa seperti Facebook atau justru malah Facebook yang berhasil meminang situs 160 karakter itu.

(ash/fyk)







Hide Ads