Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Kisah 'Kutu Warnet' Indonesia: Tak Pulang-pulang Sampai Gadai Barang

Kisah 'Kutu Warnet' Indonesia: Tak Pulang-pulang Sampai Gadai Barang


- detikInet

Ilustrasi (ist)
Jakarta -

Tak hanya di Jepang fenomena orang tinggal di warnet. Di Indonesia juga ada. Seperti dituturkan oleh mantan penjaga warnet berikut ini.

Sebut saja namanya Andi. Dulu, dia kuliah di kota pelajar Yogyakarta. Saat kuliahnya hampir selesai, dia bekerja part time di sebuah warnet di bilangan jalan Gejayan. Waktu itu sekitar tahun 2008, warnet masih menjamur di kota Yogya.

"Beberapa orang memang suka nginep, semalaman cuma ngakses internet ya mereka kayak kutu warnet gitulah. Kalau sudah dini hari baru tidur," kata Andi yang sekarang bekerja sebagai pegawai swasta itu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ya, Andi mengidentifikasi beberapa orang yang senang tinggal lama-lama di warnet meski tidak sampai hitungan bulan seperti di Jepang. Apakah mereka tinggal karena tidak punya rumah atau memang karena hobi berlama-lama akses internet, Andi tidak menanyakannya.

Sudah tentu biaya yang mereka habiskan tidak sedikit. Biasanya mereka mampu membayar penuh. Tapi pernah suatu hari ada yang tidak mampu bayar.

"Jumlahnya lumayan. Maka dia nitipin pemutar MP3 ke saya buat jaminan. Karena kasihan ya saya biarkan," papar Andi.

Tapi orang itu tak pernah kembali lagi. Jadi Andi mendapatkan pemutar MP3 meski kondisinya sudah usang dan harus membayar tagihan warnet tamu tersebut.

"Lumayanlah pemutar musiknya masih berfungsi. Waktu itu harganya masih mahal sehingga saya tidak terlalu kecewa orang itu tak balik lagi," tuturnya.

Andi menduga mereka sebenarnya punya rumah atau hanya mahasiswa biasa. Pada masa itu memang banyak orang kecanduan mengakses internet dan betah berlama-lama di warnet. Smartphone atau WiFi belum banyak sehingga warnet pun laris.

"Warnetnya bisa jutaan sehari pendapatannya. Malem pun masih ramai. Warnet saya ada lima puluhan bilik kadang-kadang penuh semua sampe ngantre," katanya.

Tapi sekarang sepertinya sudah lain ceritanya. Ketika mengunjungi kota Yogya beberapa waktu lalu, ia menengarai jumlah warnet sudah tidak sebanyak dulu.

"Kalau menurut saya sih memang sudah bukan masanya warnet lagi, kalau yang buat game online sih masih lumayan ramai. Sekarang kan orang sudah bisa ngenet pake smartphone, laptop sudah murah, WiFi di mana-mana," begitu analisisnya.

(fyk/ash)






Hide Ads