Angga Mardhian, salah seorang anggota keluarga yang nyaris jadi korban penipuan ini menuturkan, kejadian tersebut bermula saat satu bulan yang lalu ia memasang iklan penjualan rumah di situs jual beli OLX yang dikenal gratis.
"Sudah lama saya ingin menjual rumah kakek saya yang memang sudah disetujui beliau, saya memasang tarif seharga dengan daerah sekitar. Dalam iklan yang saya pasang saya menulis alamat, nomor telepon, serta PIN BBM. Setelah iklan selesai saya pasang, saya berharap besar agar terjual untuk membeli obat adik saya yang sedang sakit kejang/epilepsi," tutur Angga kepada detikINET, Rabu (4/2/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tak lama saya memasang lagi iklannya pada 30 Januari 2015 sekitar pukul 9 pagi, ibu saya mendapatkan SMS dari seseorang wanita bernama Widia. Isi dari SMS ini adalah menanyakan apakah rumah tersebut sudah terjual? Harga bisa nego? SHM (Sertifikat Hak Milik) kah? Dan dalam SMS itu Ibu saya diminta untuk menghubungi suaminya saja yang bernama Wisnu dengan disertai nomor handphone," lanjutnya.
Akhirnya Ibu Angga menghubungi Wisnu melalui telepon tapi tidak ada jawaban, dilanjutkan via SMS pada Widia dan Wisnu, tapi tetap tak berbalas. "Ibu saya pun menunggu dan segera menelepon kakek saya untuk memberitahukan ada pembeli rumah. Sekitar 30 menit setelah tak dibalas SMS maupun telepon, Wisnu tiba-tiba SMS dengan isi yang sama dengan Widia yakni menanyakan harga nego bisa? SHM kah? Lalu diminta hubungi istrinya, Widia," ungkap Angga.
Dari situ Angga sejatinya mulai curiga, kenapa mereka saling melontarkan? Menjelang sore hari, Wisnu menelepon ibu Angga, lalu diberikannya pada kakek Angga biar lebih pasti harga nego yang diinginkan.
Selesai menelepon dengan hasil deal, kakek menjelaskan si pembeli tanpa ragu dan tanpa nego langsung menyebutkan bahwa malam itu juga DP (down payment) pembayaran akan dikirim sebesar Rp 10 juta.
Keesokan harinya, tanggal 31 januari 2015 pukul 9 pagi, kakek menuju ATM untuk mengecek apakah sudah dikirim uangnya. Setibanya disana rekening kakek tak menunjukkan ada penambahan ataupun pengurangan dalam jumlah besar.
Ahasil, kakek pulang dengan wajah lesu. Karena si kakek lelah, ibu Angga kembali menuju ATM untuk kembali mengecek, dan ternyata tetap tak ada.
"Ibu saya lalu menelepon Wisnu untuk menanyakan mengapa tidak ada uang yang dijanjikan semalam. Wisnu pun menuntun ibu saya prosedurnya dan menanyakan pihak bank, namun pihak bank tak bisa membantu hal yang diminta Wisnu".
"Ibu saya lalu pulang dengan wajah lesu pula (katanya) namun sekeluarnya dari bank, Ibu saya tak habis pikir. Ia pun menanyakan pada security bank. Security menjelaskan bahwa perlu berhati-hati karena itu merupakan modus penipuan melalui telepon yang bisa menghipnotis korbannya," cerita Angga.
Ibu Angga pun kaget akan hal ini. Beruntungnya, kakek dan ibu Angga tak terhipnotis. "Bisa jadi malah kakek dan ibu saya yang mengirim uang Rp 10 juta. Kecewa mungkin ada, namun apa daya memang penjahat sekarang lebih licin dari pelembut pakaian," lanjutnya.
"Setelah mengetahui hal itu ibu saya SMS Wisnu dengan ancaman suami ibu saya seorang polisi, dan memang setelah ibu saya SMS tak satupun balasan dari Wisnu. Lucunya, keesokan harinya dia (Wisnu-red.) kembali SMS dengan nomor yang sama namun beda nama," Angga menandaskan.
Ya, semoga saja hal ini bisa jadi pelajaran untuk lebih berhati-hati saat bertransaksi online. Baik itu pembeli atau penjual, siapapun bisa menjadi target penipu dunia maya.
(ash/ash)