Path punya misi menjadi jejaring sosial privat yang populer. Saat awal berdirinya, Path punya pertumbuhan yang menjanjikan di tanah kelahirannya, Amerika Serikat. Tapi perlahan merosot dan malah menemukan kesuksesan di negara nun jauh di sana, Indonesia.
Path diluncurkan oleh Dave Morin dan rekannya Shawn Fanning serta Dustin Mierau pada November 2010. November 2011, Path meluncurkan lebih banyak fitur. Dan kemudian jumlah usernya tumbuh dari 30 ribu menjadi 300 ribu kurang dari sebulan.
Path pun dinilai sebagai perusahaan startup yang menjanjikan. Tahun 2012, Path hampir memuncaki daftar atas aplikasi di Apple App Store. Tapi zaman keemasan itu ternyata tidak lama. Path kemudian anjlok peringkatnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Beberapa media di Amerika Serikat menganalisis tenggelamnya popularitas Path di sana. Misalnya, karena jejaring sosial ini dianggap tidak konsisten dan tidak jelas peruntukannya. CEO Dave Morin pun mengakui pihaknya memang menghadapi tantangan besar di AS.
"Kami memiliki beberapa tantangan di AS yang perlu kami tangani dengan fokus," kata CEO Path, Dave Morin pada media teknologi Recode. Di seluruh dunia, Path kabarnya sudah memiliki sekitar 23 juta user. Lumayan, tapi masih kalah begitu jauh dari pesaing seperti Facebook atau Twitter.
Perjalanan terjal Path di AS mungkin juga terkait beberapa kasus yang menimpanya. Pada tahun 2013, lembaga pemerintah Federal Trade Commissions (FTC) mendenda Path senilai USD 800 ribu karena pelanggaran privasi, yaitu menyimpan data user di bawah umur tanpa permisi.
Kemudian pada Oktober 2013, Path melakukan PHK pada 20% pegawainya, yang sebenarnya tidak banyak, mungkin terkait statusnya sebagai perusahaan startup. Kini, jumlah pegawai Path kabarnya di kisaran 25 orang.
Namun demikian, beberapa investor masih yakin dengan potensi Path. Terutama karena mereka mendapatkan pasar baru yang mungkin tidak diduga sebelumnya, Indonesia. Ya, salah satu basis pengguna Path terbanyak adalah Indonesia.
Grup Bakrie pun turut mengucurkan dana pada Path. Dan CEO Dave Morin pun semakin sering ke negara ini. Bahkan rencananya, Path pun akan buka kantor di Indonesia.
"Bisnis kami di sana lebih kuat dari yang dipahami orang-orang. Aku ingin memahami pasar tersebut dan menemukan mitra lokal untuk mengembangkan operasi kami," kata Morin pada Recode.
(fyk/ash)