Pelaku hiburan dewasa ini memang menghadapi masalah yang sama seperti di industri entertaiment lainnya, sebut saja musik dan film. Namun pelaku bisnis esek-esek ini merasa tak diperlakukan adil, khususnya oleh Google.
Sekedar diketahui, Google mencoba menekan angka pembajakan film dan musik dengan mengarahkan link ke situs berbayar yang legal. Hal yang tak didapati oleh industri pornografi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Berapa kali dalam sehari kata 'porno' diketik ke dalam antarmuka pencarian Google? Perusahaan utama seperti Google terus mendiskriminasikan industri dewasa meskipun dunia benar-benar tertarik dalam mencari pornografi," lanjutnya.
Perusahaan seperti Google diminta untuk oleh industri agar tak pilih kasih dan menerapkan hal yang sama layaknya industri lainnya.
Industri dewasa menunjukkan bahwa tidak hanya Google membuat sulit untuk menemukan sumber-sumber legal untuk membeli konten mereka, tapi mereka juga bahkan tidak diperbolehkan untuk membeli iklan di raksasa pencarian tersebut.
Statistik menunjukkan bahwa 90% pengguna internet pernah mencoba mencari konten pornografi. Namun pada umumnya mereka membajak, sehinga kampanye #payforyourporn pun begitu marak disuarakan di Twitter.
(tyo/tyo)