Beberapa waktu lalu, pengguna Twitter Indonesia sempat dihebohkan dengan kemunculan hashtag #ShameOnYouSby. Sempat menjadi trending topic dunia, hashtag tersebut kemudian menghilang. Twitter disebut-sebut berperan menghilangkannya. Apa tanggapan situs mikroblogging ini?
"Kami adalah platform terbuka untuk kebebasan berekspresi. Begitu terbukanya, Twitter tidak memihak. Platform kami tidak memihak. Twitter terbuka bagi semua pihak kapan pun," tegas Vice President Global Public Policy Twitter Colin Crowell.
Dengan sifat keterbukaannya, menurut Colin, menjadikan Twitter platform yang menarik bagi siapa saja. Ketika berbicara soal hashtag, banyak orang salah mengerti bagaimana sebuah topik bisa menjadi tren kemudian menghilang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dipaparkan Colin, trending topic lebih ditentukan berdasarkan lonjakan tweet terhadap suatu topik, bukan berdasarkan total kepopuleran tweet. Sebuah tweet bisa bertengger lama menjadi tren, namun kemudian turun dengan sendirinya jika tidak ada lonjakan angka tweet.
"Itu sebabnya kami juga menyediakan link terkait bagi pengguna yang menjelaskan bagaimana cara trending topic bekerja," ujarnya.
Dalam kesempatan ini Colin juga sempat menceritakan bahwa pernah terjadi masalah serupa di Amerika Serikat (AS). Saat isu demonstrasi Wall Street 2011 silam, muncul spekulasi Twitter sengaja menghilangkan hashtag yang ramai ditweet saat gerakan terjadi.
"Publik bertanya, 'Hey apa yang Anda lakukan?'. Bukan, itu terjadi karena mereka menggunakan hashtag berbeda," jelasnya.
Saat demonstrasi terjadi, dikatakan Colin, tweeps menggunakan hashtag berbeda-beda. Ada yang menggunakan #occupywallstreet, #occupywallst dan #ows. Karena membaur, hashtag tersebut tidak menciptakan tren. Bahkan meski banyak orang membicarakannya.
"Pada dasarnya, masyarakat manapun, di platform terbuka, kita merefleksikan apa yang dibicarakan orang banyak, juga terkait momen. Entah itu World Cup, isu politik atau Ellen Degeneres ber-selfie. Di manapun dan bagaimana mereka membicarakan sesuatu, akan tercermin di platform terbuka," simpulnya.
(rns/ash)