Menurut M. Salahuddien, salah satu relawan tim IT KPU, sorotan yang menyasar website KPU tentu tak bisa dihindarkan. Apalagi menjelang pengumuman hasil Pilpres pada 22 Juli 2014.
Percobaan pembobolan ini disebut terjadi hampir setiap hari. Satu jam bisa muncul berpuluh kali, nanti hilang dan ada lagi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Namun situs KPU itu seperti etalase saja. Gak masalah, ya gimana lagi, overload. (Karena) keterbatasan anggaran dan sumber daya, ini tak bisa dihindari," ungkap pria yang biasa dipanggil sebagai Didin Pataka itu kepada detikINET.
"Namun yang penting adalah, sistem back-end dimana pengiriman data dari daerah ke pusat tak bermasalah. Yang penting orang bisa melihat form C1. Tapi proses itu gak terganggu dengan situs KPU yang down," tegasnya.
Ia melanjutkan, sistem yang menaungi situs KPU dan back-end IT KPU itu terpisah. Jadi proses pengiriman, penerimaan dan penyimpanan data hasil perhitungan suara itu tak akan berpengaruh dengan tak bisa diaksesnya situs yang beralamat di www.kpu.go.id tersebut.
"Alhamdulillah di back-end lancar. Total data sekitar 8-10 TB sudah masuk dari seluruh indonesia termasuk luar negeri," tandas Didin yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Internet Security Incident Responses Team on Internet Infrastructure (Id-SIRTII) tersebut.
(ash/tyo)