Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network
detikInet
Suka Duka Belanja Online
Dua Kali Ketipu Pembeli, Siti Lemas & Modal Amblas
Suka Duka Belanja Online

Dua Kali Ketipu Pembeli, Siti Lemas & Modal Amblas


- detikInet

Ilustrasi (gettyimages)
Jakarta - Kisah pilu seputar belanja online tak cuma menerpa pembeli. Penjual pun sejatinya punya risiko sama, kena tipu dari konsumennya.

Hal ini dirasakan langsung oleh Siti. Kepada detikINET, ia mengaku belum lama bergelut di bisnis online. Meski demikian, Siti tetap menikmatinya, apalagi bisa menjangkau pembeli dari luar negeri dan berharap mendapat keuntungan yang besar.

Nahas, tiga bulan menjalani bisnisnya, Siti sudah dua kali ditipu konsumen. "Mereka pelanggan saya, memesan dalam jumlah banyak sekali, dua kali yang ke Malaysia lancar, order berjuta-juta," cerita Siti.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Tapi ketiga kalinya karena mengejar waktu, pelanggan memesan dalam jumlah banyak, waktu itu Rp 2.840.000, saya percaya saja karena sudah dua kali dia order banyak banyak dan lancar".

"Dia (konsumennya-red.) bilang besok transfer, jadi dengan senang hati barang saya kirim duluan karena besoknya dia tranfer. Tapi ternyata tepat setelah barang terkirim, dia bilang uang tak cukup," lanjutnya.

Sampai sekarang pembeli tersebut masih belum membayar, meski sudah dua bulan berlalu.

Cerita duka Siti di bisnis online belum selesai sampai di situ. Belum lama ini, 9 juli 2014, ia juga mengalami penipuan serupa.

Berawal dari pengunjung di situs jual beli yang mengirimkan email pemesanan busana muslim sebanyak 15 set. Transaksi berjalan dan pembeli yang mengaku berasal dari Amerika Serikat itu bersedia membayar biayanya sebesar USD 485.

"Awalnya, saya selama tiga hari menunggu transferan dia. Tapi saya dapet email dari Bank of America yang menyatakan transferan sudah ada di akun rekening saya. Tapi karena terjadi error -- yang saya tak mengerti -- pihak Bank of America meminta receipt pengiriman DHL. Karena itu (diklaim sebagai) prosedurnya agar transferan masuk rekening bank saya di BCA. Sontak, saya percaya dan segera kirim ke DHL," Siti memaparkan.
Β 
Hanya saja, transferan yang ditunggu tetap tak kunjung masuk dengan alasan kelebihan limit tranferan. Dan Siti malah diminta untuk mentransfer Rp 3 juta lebih per tanggal 15 juli 2014.

"Setelah saya kirim via Western Union masih tak ada hasil, tetap ditahan FBI katanya. Saya pun mendapat email atas nama FBI langsung. Saya masih percaya dan menyuruh kakak saya mengirim uang, tapi kakak saya tak mau," tambahnya.

Akhirnya, Siti tak mau lagi menggubrisnya dan memilih untuk merelakannya. Meski masih diminta 'Bank of America' ataupun 'FBI' untuk mengirimkan uang kalau mau uang yang semestinya ia terima masuk rekening.

"Tapi saya berfikir tidak! Total kerugian saya dua kali ketipu Rp 15 juta, sungguh lemas rasanya, baru mulai bisnis modal langsung amblas. Mulai dari nol lagi," pungkasnya.

(ash/yud)





Hide Ads