Black Cars -- sebutan armada Uber -- sejatinya tidak benar-benar memiliki armada sendiri. Mereka mengajak kerjasama dengan pemilik kendaraan untuk menjadikan kendaraannya jadi sebuah 'taksi'.
Konsep ini menarik, namun juga menjadi bumerang bagi Uber. Perusahaan ini menjadi musuh bersama penyedia layanan taksi resmi di berbagai kota. Tidak mengherankan, bila Uber dan armadanya sering sekali diseret ke meja hijau.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ya, sebagai perusahaan yang sudah global, Uber harus berhadapan dengan regulasi lokal. Bahkan, di rumahnya sendiri, San Francisco, Uber harus menghadapi tuntutan karena bersaing dengan taksi resmi. Pihak pengadilan di berbagai negara bagian pun meminta Uber dihentikan.
Kebanyakan dari pihak berwenang menuding armada Uber tidak memiliki izin operasional khusus untuk Taksi. Di negara bagian Amerika Serikat saja, Uber tidak berjalan dengan mulus.
Paling frontal adalah Uber harus berhadapan dengan supir taksi tradisonal yang lahannya diambil oleh mereka. Malahan kejadian paling buruk pernah terjadi di Paris Prancis.
Saat itu ratusan supir taksi berdemo menentang kehadiran armada Taksi uber. Akibat kejadian itu pula, sebuah mobil Uber dihancurkan oleh para supir taksi yang sedang marah.
Memang kendati sudah berjalan di Indonesia, Uber tetap harus mengikuti peraturan lokal dan jangan sampai kejadian perlawanan terhadap Uber di sejumlah negara terulang di Indonesia.
(tyo/ash)