Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Ini Alasan Google Lebih Inovatif dari Apple

Ini Alasan Google Lebih Inovatif dari Apple


Susetyo Dwi Prihadi - detikInet

Jakarta -

Siapapun tak menampik bahwa Apple dan Google terlibat perseteruan, termasuk peperangan dalam membuat inovasi. Bila keduanya dihadapkan, ternyata Google lebih inovatif ketimbang seterunya tersebut.

Hal tersebut setidaknya sudah tercetus dari penulis Biografi Steve Jobs, Walter Isaacson. Dia secara blak-blakan menyebut bahwa Google lebih inovatif dari Apple untuk beberapa hal.

Ini tentu saja menimbulkan pro dan kontra. Ada yang setuju, namun tak sedikit yang tak setuju dengan pendapat ini. Nah, Anda di kubu yang sebelah mana?

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebelum menimbulkan polemik lebih jauh, berikut detikINET rangkumkan pendapat dari Bussines Insider, mengapa Apple tak lebih baik dari Google soal pencapaian inovasi.

1. Google Wearable Lebih Dahulu Ketimbang Apple

Kendati masih dalam proyek beta dan terbatas untuk pengembang, Google Glass jelas selangkah lebih maju. Apple memang digosipkan sejak lama, bakal meluncurkan iWatch, semacam smartwatch pendamping gadget utama.

Di sini letak inovasi yang dimaksud. Google memang mungkin yang bukan pertama terjun di bisnis wearable gadget. Tapi kehadiran Google Glass, membuktikan bagaimana inovasi yang dibuatnya berbeda dan bisa menimbulkan trendsetter baru di depannya.

iWatch, wearable yang nantinya bakal dibuat oleh Apple bukan saja tak pertama gadget di segmen ini. Namun juga, sudah kalah melangkah dibandingkan dengan para kompetitor Apple.

Satu-satunya yang patut dibanggakan adalah, pengaruh kedua perusahaan ini bakal membuat penjualan wearable gadget diprediksi dari sedikit menjadi berlipat-lipat di beberapa tahun ke depan.

Juniper Research memperkirakan smart wearable device seperti smartwatch dan smart glasses akan dikapalkan hingga 130 juta unit pada tahun 2018, dengan spending uang hingga USD 19 miliar.

2. iCars Kalah Langkah dari Google

Sebelum wafat, CEO Apple Steve Jobs mempunyai cita-cita untuk memasuki duni otomotif. Apalagi didasari dari industri yang menurutnya sangat menyedihkan saat itu.

Apple memang lebih dulu mewujudkan bagaimana intergrasi iOS dapat dilakukan. Namun, Google melalui Android ternyata yang dinilai lebih mampu mengubah revolusi ini.

Seperti diketahui, Google baru saja membuka apa yang disebut Open Automotive Alliance bersama Nvidia dan pembesut mobil Honda, Audi,General Motors, dan Hyundai untuk membenamkan Android di masa depan.

3. Masuk ke Industri Robot

Agak sedikit mengejutkan ketika Google mengakuisisi perusahaan robot militer bernama Boston Dynamics. Memang Google gemar mengakuisisi perusahaan dari antah berantah, dan sedikit nyeleneh. Tapi, buat apa robot militer?

Tidak ada yang tahu memang. Apalagi ini bukan pertama kalinya Google membeli perusahaan robot. Karena, sebelumnya Google sudah membeli beberapa perusahaan sejenis, termasuk humanoid robot.

Boston Dynamics tidak membuat robot untuk pasar komersial. Mereka memperoleh pendapatan dari kontrak jutaan dolar dari Departemen Pertahanan AS.

Boston Dynamics adalah perusahaan robot kedelapan yang diakuisisi Google, menandakan bahwa mereka serius pada bisnis robot. Divisi robotika Google dipimpin oleh Andy Rubin, sosok yang dikenal sebagai pencipta sistem operasi Android.

4. Akuisisi Tak Lazim

Ini menurut beberapa kalangan agaknya merupakan akuisisi Google tak lazim di tahun ini, namun membuat Google jauh lebih inovatif daripada Apple.

Google rela menggelontorkan dana sangat besar untuk perusahaan yang membuat semacam home automation, bernama Nest Lab.

Nest menjadi bagian dari keluarga Google setelah raksasa mesin pencarian ini menggelontorkan uang mahar sebesar USD 3,2 miliar. Sangat besar untuk sebuah perusahaan yang baru menghadirkan thermostat atau alat pengatur suhu otomatis.

Memang thermostat besutan Nest ini bukan sembarang alat pengatur suhu biasa, karena kemampuannya mengatur suhu secara otomatis dengan membaca sensor suhu, kelembaban, aktivitas, dan cahaya.

Perusahaan ini sendiri memang bukan startup biasa, didirikan setidaknya oleh 100 orang mantan karyawan Apple, termasukΒ  bapak iPod Tony Fadell.

(tyo/ash)









Hide Ads