Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network
detikInet
Digital Lifetyle 2014: 'Kecanduan' Internet & Smartphone Murah

Digital Lifetyle 2014: 'Kecanduan' Internet & Smartphone Murah


- detikInet

Jakarta - Digital lifestyle sudah jadi gaya hidup masyarakat modern dalam beberapa tahun terakhir. Seiring pergantian tahun yang tak lama lagi, menarik untuk disimak apa saja tren gaya hidup digital yang akan populer di 2014 mendatang.

Perubahan gaya hidup digital, khususnya tren di kalangan konsumer, memang bisa dilihat dari sejumlah pemicu utama. Misalnya, dari ketersediaan teknologi dan akses jaringan internet, smartphone, aplikasi, dan lain sejenisnya. Nah, semua ini saling terkait dan membawa perubahan baru.

Tren ini juga tak luput dari pengamatan Ericsson ConsumerLab yang telah mengidentifikasi beberapa tren kosumer terpopuler sejak 15 tahun terakhir di dunia, termasuk di Indonesia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kali ini, Ericsson kembali menggelar riset untuk mengeksplorasi nilai-nilai dan perilaku masyarakat, serta cara penggunaan produk dan layanan teknologi komunikasi dan informasi.

Program riset ini dilakukan berdasarkan wawancara tahunan dengan lebih dari 100.000 individu pada lebih dari 40 negara dan 15 kota besar di dunia. Di Indonesia sendiri, survei ini melibatkan sampel 1.000 orang di sejumlah kota besar dalam setahun terakhir.

Nah, kira-kira apa saja yang tren konsumer dan gaya hidup digital yang bakal booming di tahun 2014 mendatang, simak saja hasil riset yang dipaparkan Ericsson berikut ini.


1. Aplikasi adalah Raja

Aplikasi telah mengubah gaya hidup masyarakat. Cepatnya penyerapan smartphone di dunia telah mengubah cara kita berkomunikasi dan menggunakan internet.

Saat ini kita memasuki fase baru dari penggunaan smartphone secara cepat dan beragam, dan orang-orang banyak mencari aplikasi dalam segala bidang. Mulai dari aplikasi untuk berbelanja dan kebutuhan sehari-hari hingga komunikasi dengan otoritas dan transportasi. Aplikasi menjadi makin penting daripada smartphone apa yang Anda gunakan.

"Saat kita pulang kantor, pas kita lihat di aplikasi Waze ternyata macet. Akhirnya banyak orang memilih untuk jalan ke mal sambil menunggu macet reda. Itu salah satu contoh betapa aplikasi telah mengubah gaya hidup kita," kata Hardyana Syintawati, Vice President Marketing Communication Ericsson Indonesia.

2. Your Body is the New Password

Era password konvensional dengan kombinasi angka numerik, karakter, simbol, atau bahkan pattern lock mungkin sudah dianggap usang. Tren ini mulai berubah sejak Apple memperkenalkan fingerprint scanner di iPhone 5S.

Ke depan, kata Ericsson, semua bagian tubuh manusia bisa jadi pengganti kata kunci tersebut. Your body is the new password. Mulai dari sidik jari, retina mata, atau bahkan pemindaian bagian tubuh lainnya dengan alternatif biometrik.

"Alasannya mungkin password konvensional itu terus berubah dan membuat orang mudah lupa karena harus sering diganti. Tapi tidak dengan sidik jari atau retina mata, itu tidak akan berubah," kata Nana, panggilan akrab Hardyana Syintawati.

Ericsson dalam risetnya juga menemukan bahwa 52% pengguna smartphone ingin menggunakan sidik jari mereka daripada kata kunci dan 48% pengguna smartphone tertarik menggunakan pengenalan mata (eye recognition) untuk membuka layar smartphone mereka.

"Sebanyak 74% percaya bahwa smartphone biometrik akan banyak digunakan selama 2014," lanjut Nana.

3. Monitoring Device

Sejak dipopulerkan oleh Nike melalui produk FuelBand, sekarang makin banyak wearable gadget yang diproduksi sebagai monitoring device untuk mengukur tekanan darah, denyut jantung, dan jumlah langkah yang ditempuh sehari-hari.

Ini merupakan contoh bagaimana kita ingin mengukur tubuh kita dengan perangkat mobile, menggunakan data yang dimasukkan secara personal ke perangkat tersebut.

"Lihat saja sekarang, banyak yang pakai perangkat ini kemudian diposting ke path atau facebook untuk melihat berapa kilometer dia lari hari itu. Tren ini akan makin populer ke depannya karena makin banyak runner di Jakarta," kata Nana.

Dari hasil riset Ericsson juga ditemukan bahwa 40% pengguna smartphone menginginkan gadget mereka bisa mencatat semua aktivitas fisik dan 56% pengguna ingin memonitor tekanan darah dan denyut jantung menggunakan wearable device, misalnya dalam bentuk cincin.

4. Internet Everywhere

Internet diharapkan ada di mana-mana, bisa diakses kapan saja, dan kecepatannya memadai untuk semua aplikasi. Sayangnya, ini masih sebatas impian. Karena menurut riset Ericsson, tingkat kepuasan masyarakat Indonesia terhadap kualitas akses internet masih rendah.

"Konsumen makin demanding harus ada internet di mana saja. Ini yang harus diantisipasi oleh para penyedia internet dan operator. Jika dilihat dari sisi apps coverage, Indonesia memang masih belum memuaskan," kata Nana.

Melihat kondisi penggunaan jaringan yang berbeda-beda, khususnya di dalam gedung yang sinyalnya kurang bagus, operator disarankan untuk memanfaatkan Wifi sebagai extention indoor solution.

"Pengalaman menggunakan internet berbeda dengan layanan suara. Pengguna smartphone mulai menyadari bahwa petunjuk sinyal di telepon mereka tidak lagi memberikan petunjuk yang sesuai, ketika sinyal yang memadai untuk panggilan suara tidak cukup bagus untuk layanan internet," jelasnya.

5. Smartphone Murah

Smartphone bukan lagi barang mahal dengan makin banyaknya ponsel yang dibanderol di bawah harga Rp 1 juta. Dan tren ini terbukti cukup ampuh untuk mengurangi kesenjangan digital.

Dalam riset Ericsson, smartphone bahkan telah jadi medium kebanyakan orang yang baru pertama kali mengenal internet, khususnya di Indonesia. Kehadiran smartphone murah membuat konsumen tak perlu mengeluarkan biaya mahal untuk mengakses layanan internet.

"Sebanyak 51% konsumen global merasa bahwa telepon seluler mereka merupakan teknologi paling penting, dan bagi banyak orang smartphone menjadi perangkat utama untuk mengakses internet," kata Nana.

Di Indonesia, smartphone, merupakan perangkat utama yang digunakan untuk mengakses internet. Melalui smartphone, banyak orang di Indonesia melakukan kegiatan di internet seperti bertukar pesan melalui instant messaging, bermain games, mengakses jejaring sosial, mencari berita baru, berselancar ke situs-situs menggunakan online banking, dan membeli produk secara online.

6. Yang Penting Online, Bahaya Urusan Belakangan

Internet sudah jadi bagian yang sulit dipisahkan dari kehidupan sehari-hari, apapun risikonya. Demikian hasil riset Ericsson.

"Meskipun 56% pengguna internet harian sangat memperhatikan isu privasi, namun nyatanya, hanya 4% yang mengaku akan sedikit (mengurangi) menggunakan internet," ungkap Nana.

Pengguna lebih memilih untuk meminimalisir risiko yang dikhawatirkan, misalnya menjadi lebih waspada tentang jenis informasi pribadi yang mereka share di internet.

7. Video on Command

Bukan cuma video on demand, tapi on command alias viral yang akan jadi tren akses video di social media. Contoh yang paling hangat misalnya, kata Nana, video saat Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahok, marah-marah saat diwawancarai salah satu stasiun TV nasional.

"Video itu menyebar cepat di mana-mana, di Path misalnya, kita jadi penasaran karena disebarkan oleh teman kita. Nah itu salah satu contoh video on command. Kita buka karena endorser dari teman," kata Nana.

Meskipun memiliki pilihan media yang beragam, kita cenderung tidak memilih berdasarkan pilihan kita sendiri. Faktanya, teman kita sangat berpengaruh terhadap pilihan kita untuk menonton video.

Ericsson menemukan bahwa 38% responden mengatakan mereka menonton video klip yang direkomendasikan teman mereka setidaknya beberapa kali dalam seminggu. Teman kita memiliki pengaruh yang besar terhadap blog yang kita baca dan kebiasaan mendengar kita.

8. Makin Hobi Tes Koneksi Jaringan

Pernah pakai speedtest.net untuk tes koneksi jaringan? Nah, kebiasaan itu akan makin populer di Indonesia. Orang penasaran, berapa speed yang mereka terima saat mengakses internet.

Sebanyak 48% konsumen juga menggunakan aplikasi semacam ini untuk mengetahui lebih jauh mengenai konsumsi data mereka. Ketika 41% konsumen ingin mengetahui berapa banyak data yang mereka gunakan, 33% ingin memastikan tagihan mereka secara benar, dan 31% tidak ingin melebihi batas data operator mereka.

"Riset ini juga mengungkapkan bahwa 37% pemilik smartphone secara berkala menggunakan aplikasi untuk mengetes kecepatan koneksi mereka," kata Nana.

9. Sensor Everywhere

Setelah sensor monitoring tubuh, sensor yang juga akan populer mulai 2014 mendatang adalah sensor interaktif yang akan memonitor segala aktivitas. Sensor ini akan ada di mana-mana.

Ericsson memaparkan, pada akhir 2016 nanti, sekitar 60% pemilik smartphone percaya bahwa sensor akan digunakan di semua sektor, mulai dari sektor kesehatan, transportasi publik, hingga ke mobil, rumah, atau bahkan tempat kerja kita.

10. Play, Pause, Continue Everywhere

Saat nonton TV di rumah, kadang yang kita tonton belum selesai karena harus berangkat ke kantor atau pergi ke tempat lain. Alhasil, tontonan terputus dan kita tak tahu kelanjutannya.

Nanti ke depannya, hal semacam itu tak akan terjadi lagi. Dengan kecanggihan teknologi, baik perangkat TV, ponsel, maupun komputer desktop atau laptop, semua akan terhubung.

Tontotan yang tadi belum tuntas di TV rumah akan otomatis berpindah ke tablet atau smartphone yang kita bawa menggunakan akses internet. Dari riset Ericsson, 19% dari total waktu streaming itu akan digunakan oleh pengguna saat beralih perangkat ke smartphone atau tablet.

"Jadi pas kita harus stop nonton di rumah, bisa kita lanjutin di jalan lewat smartphone, dan kita tuntaskan di komputer desktop pas sampai kantor. Jadi tak ada tontonan yang terputus meskipun harus bertukar perangkat," kata Nana.

(rou/rou)







Hide Ads