Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Laporan dari Tokyo
Ini Rencana Kerja Pemerintah Jepang Terkait ICT, Bisa Dicontoh!
Laporan dari Tokyo

Ini Rencana Kerja Pemerintah Jepang Terkait ICT, Bisa Dicontoh!


- detikInet

Ilustrasi (gettyimages)
Tokyo - Pemerintah Jepang menyadari luar biasanya (potensi) peranan teknlogi informasi dan komunikasi di berbagai aspek. Baik untuk individual, bisnis, maupun pemerintahan. Itu mengapa ICT telah dan akan terus menjadi fokus utama pemerintah yang kini dipimpin Perdana Menteri Shinzo Abe tersebut

ICT diharapkan bukan hanya menjadi milik orang muda yang gemar melekatkan jemarinya pada ponsel pintar. Semua kalangan, termasuk manula, diharapkan bisa berangkulan mesra dengan ICT. Tujuannya satu: kehidupan yang lebih baik.
.
"ICT harus dimanfaatkan untuk melayani masyarakat. Bagaimana berbagai permasalahan bisa diatasi dan akhirnya memicu munculnya banyak bisnis baru. Di satu sisi, kualitas kehidupan akan meningkat. Di sisi lain, perekonomian juga akan terus tumbuh," jelas Charley K. Watanabe, Deputy Director-General di Biro Informasi dan Komunikasi, Kementerian Dalam Negeri dan Komunikasi Jepang.

Ia berbicara pada event Ericsson Business & Innovation Forum (EBIF) 2013, Kamis (31/10/2013) di Tokyo, Jepang, yang dihadiri detikINET.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

EBIF 2013 adalah event tahunan Ericsson. Berbagai studi, pemikiran, dan prediksi masa depan seputar ICT dipaparkan secara menarik dan komprehensif. Bukan hanya petinggi Ericsson saja yang jadi pembicara. Tapi juga para pembuat kebijakan, profesional, dan akademisi ternama dari beragam latar belakang.

Tahun ini EBIF mengambil tema megacities. Perkotaan dinilai menjadi faktor pendorong perkembangan ICT. Dan berkat ICT, kualitas hidup masyarakat perkotaan diharapkan bisa meningkat.

Kembali ke paparan rencana kerja pemerintah Jepang, Charley K. Watanabe memberikan informasi yang detil. Bisa dicontoh!

Kesehatan

Jumlah manula di Jepang semakin banyak. Sedangkan kaum muda kini enggan menikah dan punya keturunan. Akibatnya, banyak manula yang hidup seorang diri dan tidak mendapat perhatian yang dibutuhkan. Utamanya perhatian di bidang kesehatan.

Untuk mengatasinya, pemerintah menyiapkan layanan monitoring kesehatan dengan bantuan ICT. Begini cara kerjanya: akan ada sensor yang melekat di berbagai perangkat (antara lain ponsel, jam tangan, kacamata).

Dengan sensor yang antara lain terstimulasi oleh panas tubuh dan detak jantung, kondisi kesehatan seseorang bisa diketahui secara realtime. Ketika tekanan darah tiba-tiba meningkat, informasi akan dikirim langsung ke dokter.

Dokter bisa berkomunikasi dengan pasien, menulis resep, merekomendasikan asupan makanan dan jadwal olahraga. Jika dirasa perlu untuk pemeriksaaan langsung, informasi akan dikirim ke penyedia layanan sosial sekitar.

Penyedia layanan lalu akan mengirim petugasnya untuk datang menjemput dan menemani sang pasien pergi ke rumah sakit.

Penyedia layanan sosial adalah salah satu contoh munculnya bisnis baru yang dipicu dari optimalisasi ICT. Tahun 2020, nilai dari pertumbuhan bisnis baru yang muncul berkat pemanfaatan ICT di bidang kesehatan diprediksi mencapai 23 triliun yen.

Bencana Alam

"Data bisa menjadi penyelamat. Data dalam bentuk peta 3D, tampilan geografis, prediksi cuaca, dan sebaran penduduk. Jika semua itu diolah, dan kita hanya bisa melakukannya dengan ICT, kita bisa membuat persiapan," tutur Charley K. Watanabe.

Saat musibah datang, data tersebut akan diolah dan dipersonalisasi sesuai dengan kebutuhan tiap individu. Peringatan dini bencana akan dikirim melalui berbagai perangkat. Bisa ponsel atau bahkan layar LED di berbagai ruang publik.

Masing-masing orang lalu akan mendapat rekomendasi lokasi terdekat mana yang harus dituju untuk menghindari bencana. Berbagai moda transportasi juga secara otomatis mengarah ke lokasi yang aman.

Layanan online lain yang terus dikembangkan pemerintah Jepang adalah pengurusan dokumen & akses informasi pemerintahan, rekomendasi sistem pertanian dan pendidikan jarak jauh.

Rencana pemerintah Jepang tentunya memerlukan pembangunan infrastruktur tingkat tinggi. Tapi tak perlu mengaitkan pembangunan infrastruktur ICT dengan mendirikan menara atau membangun gedung data di seluruh penjuru kota.

Di masa depan, lampu jalan diposisikan sebagai perangkat pendukung pengembangan komunikasi dan informasi. "Kita tidak perlu mengorbankan penampilan kota yang menarik. Lampu jalan bisa dimanfaatkan sebagai lampu pintar," ungkap Douglas Gilstrap, Senior Vice President, Chief Strategist Ericsson, masih dari EBIF 2013.

Pejabat keamanan bisa memantau kondisi area sekitar lampu taman melalui sensor. Charging mobil listrik juga bisa dilakukan di lampu taman. Untuk para turis, informasi dan rekomendasi tempat wisata bisa diperoleh melalui lampu pintar tersebut.

Jepang dinilai sangat tepat dijadikan model implementasi invoasi terkini para perusahaan teknologi. Penetrasi mobile broadband di negara ini mencapai 95%. Angka tersebut adalah 3x rata2 negara lain.

Penikmat paket data di Jepang sudah terbiasa memanfaatkan beragam layanan ICT. Mulai dari mobile wallet, download musik & video, QR code, sampai integrasi tiket kereta dalam ponsel pintar. Negara lain, termasuk Indonesia, bisa mencontoh Jepang. Mengadapatasi solusi yang sekiranya cocok untuk negeri tercinta.

(ine/ash)






Hide Ads