Ponsel pintar atau smartphone diharapkan bisa jadi alat untuk menghadapi macet. Begitu setidaknya hasil yang muncul dari survei tingkat kepuasan masyarakat perkotaan yang digelar Ericsson.
Melalui smartphone, masyarakat perkotaan mengharapkan ada tiga layanan untuk menghadapi ruwetnya lalu lintas. (1) Personal navigator. Layanan ini diharapkan bisa merekomendasikan rute perjalanan & moda transportasi secara personal. Tidak hanya dengan memasukkan data lokasi tujuan dan melihat lalu lintas sekitar, tapi secara pintar membaca kebiasaan para penggunanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
(3) Minimal day-travel scheduler (pengendali jadwal perjalanan). Padatnya janji temu membuat seseorang harus berkejaran dengan waktu. Layanan ini merekomendasikan perubahan jadwal sehingga mobilitas bisa terkendali. Si ponsel pintar bisa juga langsung mengkonfirmasi perubahan janji temu kepada pihak bersangkutan.
Smartphone memang bukan MRT yang bisa mengangkut banyak orang di jalan sehingga kepadatan pengguna mobil berkurang. Tapi smartphone dipercaya telah (dan akan selalu) mengubah gaya hidup seseorang. Kebiasaan bepergian yang tidak efektif bisa berkurang jika ponsel pintar dimanfaatkan secara maksimal.
"Layanan ini hadir melalui aplikasi. Dalam waktu tiga tahun, pertumbuhan aplikasi diprediksi akan meningkat lima kali lipat. Beberapa aplikasi yang diinginkan bahkan tidak sulit dibuat. Saat aplikasi semakin banyak dan orang rutin menggunakan, maka kehidupan akan berubah. Kita semua bisa membuat perubahan," jelas Michael Bjorn, Head of Research Ericsson Consumer Lab pada event Ericsson Business & Innovation Forum (EBIF) 2013 di Tokyo, Rabu (30/10/2013) yang dihadiri detikINET.
Ericsson menggelar survei guna memotret profil dan kebiasaan pengguna internet, juga untuk memprediksi masa depan. Jajak pendapat dinilai penting untuk perusahaan raksasa penyedia infrastruktur jaringan asal Swedia ini.
Survei tingkat kepuasan masyarakat perkotaan ini dilakukan sepanjang September 2013. Sebanyak 7.500 pengguna ponsel iPhone/Android menjadi responden. Rentang usia mereka mulai 15-69 tahun dan tersebar di lima kota besar mulai dari Sao Paulo, Beijing, New York, London dan Tokyo. Hasil dari jajak pendapat ini diyakini mewakili suara 40 juta penduduk kota.
"Kami telah 20 tahun mempelajari perilaku konsumen, termasuk bagaimana mereka menggunakan layanan dan produk ICT. Dengan survei, kami punya pemahaman yang mendalam mengenai konsumen, termasuk memprediksi tren," tutur Cecilia Atterwall, Head of ConsumerLab di acara yang sama.
Kemacetan adalah salah satu dari tiga aspek kehidupan perkotaan yang menurut hasil survei dinilai paling tidak memuaskan. Dua lainnya adalah komunikasi dengan pihak berwenang dan tempat penitipan anak/manula.
Sedangkan aspek kehidupan yang dinilai sudah terpuaskan adalah hasrat berbelanja, makan di restoran/cafe, dan menyalurkan hobi. Layanan-layanan online yang sudah sukses membuat masyarakat perkotaan happy antara lain adalah reservasi, pesan antar di hari yang sama dan rekomendasi produk.
(ine/ash)