Dua juta pasang mata itu ditugasi untuk memantau pesan yang setiap hari muncul di jejaring sosial dan blog. Mereka menggunakan kata kunci tertentu untuk menemukan target yang dicari.
Jutaan 'polisi' itu konon dipekerjakan oleh pemerintah dan perusahaan komersil yang memiliki kepentingan. Demikian yang dilansir Beijing News dan dikutip detikINET, Selasa (8/10/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Beberapa tahun belakangan ini China memang sudah memblokir berbagai situs, sebut saja Facebook dan Twitter yang dianggap telah memicu gejolak politik di Afrika Utara dan Timur Tengah.
Situs yang menjadi korban terakhir pemerintah dari Negeri Panda itu adalah The New York Times. Akses kantor berita itu diblokir lantaran telah menulis soal aset kekayaan Perdana Menteri China, Wen Jiabao.
(eno/ash)