Linimasa, film dokumenter tentang social media di Indonesia yang diproduksi oleh ICT Watch dan WatchdoC akan menjadi bagian dari kurikulum SMA di Australia Barat.
Surat resmi telah dilayangkan oleh Otoritas Kurikulum dan Standar Sekolah Australia Barat (scsa.wa.edu.au) pada ICT Watch. Intinya berisikan permohonan izin menggunakan film Linimassa sebagai pembaharuan (update) materi penunjang mata pelajaran βIndonesian: Second Languangeβ di tingkat Senior Secondary (SMA).
Dalam mata pelajaran itu selain tentang dinamika bahasa Indonesia, para siswa juga mempelajari dinamika budaya Indonesia. Seperti tertulis dalam silabus, mata pelajaran yang mulai dijalankan sejak 2009 tersebut bertujuan membangun kemampuan siswa SMA di Australia berkomunikasi dan memahami beragam konteks di Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kedua film ini mendapatkan animo bagus, baik dalam bentuk kegiatan βnonton barengβ hingga sebagai bahan diskusi di berbagai kampus dalam maupun luar negeri. Film yang dibubuhi subtitle bahasa Inggris ini telah mendapatkan Surat Tanda Lulus Sensor (STLS) dari Lembaga Sensor Film dan telah di-upload ke YouTube agar dapat seluasnya diakses.
Film dokumenter Linimassa menggunakan lisensi Creative Commons, yang artinya boleh digunakan, digandakan dan didistribusikan secara bebas dan gratis untuk keperluan edukasi (non-komersial). DVD Linimassa juga dapat dipesan secara terbatas dan akan dikirim cuma-cuma bagi yang ingin melakukan nonton bareng atau diskusi di kampus.
Dan kini tengah berlangsung kompetisi meresensi film Linimassa 2 yang berhadiah total Rp 8 juta rupiah. Untuk info selengkapnya mengenai film Linimassa bisa mengunjungi situs www.linimassa.org.
(fyk/fyk)