Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network
detikInet
Netter Tembus Sensor 'Great Firewall'

Netter Tembus Sensor 'Great Firewall'


- detikInet

Shanghai, China - Sebagian pengguna internet di China pekan ini dilaporkan bisa mengakses sejumlah situs yang diblokir pemerintah seperti Facebook, Twitter dan YouTube. Media setempat menyebut ini sebagai momentum menikmati sebuah kebebasan baru.

Pemerintah China memblokir sebagian besar situs jejaring sosial asing (social networking sites/SNS) dengan alasan mencegah kekacauan publik tak terkendali yang bisa timbul akibat akses informasi asing.

Itu sebabnya, perusahaan SNS di China kemudian menawarkan layanan serupa Facebook, Twitter dan YouTube namun dengan menyensor konten sensitif, terutama yang bersinggungan dengan pemerintah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya bisa mengakses YouTube, tidak perlu meretas firewall," kata Arvin Xie, pengguna Weibo, layanan mikroblogging serupa Twitter dalam postingannya.

Dilansir Reuters, Kamis (1/3/2012), sejumlah pengguna internet termasuk kalangan mahasiswa banyak yang melaporkan mereka bisa mengakses YouTube, Facebook dan Twitter di ponsel maupun desktop di siang hingga sore pada Senin dan Selasa waktu setempat pekan ini.

"Saya menggunakan Facebook untuk pertamakalinya kemarin. Saya mendaftar lalu melihat-lihat situs tersebut. Saya yakin, mendadak ada banyak orang yang mendaftar Facebook kemarin," ujar Zhang Wenjin mahasiswa Jiao Tong University.

Akhir pekan lalu, pengguna internet China juga bisa mengakses Google+ dan melihat halaman profil milik Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama. Saat ini Google+ melalui komputer desktop di China diblokir, namun akses melalui perangkat mobile masih bisa dilakukan.

Tidak diketahui penyebab bisa ditembusnya 'Great Firewall'-- sebutan untuk menggambarkan ketatnya sensor internet di China. Namun tak lama setelah itu, pada Rabu waktu setempat akses ke Facebook, YouTube dan Twitter kembali diblokir.

Karena kebijakan sensor internet yang sangat ketat, beberapa pengguna internet di negeri Tirai Bambu selama ini membayar virtual private network (VPN) untuk bisa menembus website yang diblokir dan lolos dari pencarian yang disensor.
(rns/ash)





Hide Ads