Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network
detikInet
Menguak Digital Forensik
Analis Digital Forensik Harus Tahu Cara Kerja Hacker
Menguak Digital Forensik

Analis Digital Forensik Harus Tahu Cara Kerja Hacker


- detikInet

Jakarta - Minat akan digital forensik mulai tumbuh terutama di kalangan mahasiswa atau publik berlatar belakang ilmu TI (teknologi informasi). Prospeknya memang menjanjikan. Nah, ahli digital forensik Ruby Alamsyah berbagi kiatnya untuk para peminat digital forensik.

Pekerjaan seorang analis digital forensik menurut Ruby akan banyak diperlukan, terutama oleh para penegak hukum. Pasalnya, di zaman sekarang hampir setiap kasus melibatkan barang bukti digital.

"Banyak kasus yang melibatkan barang bukti digital perlu pembuktian atau pemastian dari digital forensik," kata Ruby.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bagi para peminat digital forensik, Ruby berpesan agar mereka mempelajari ilmu tersebut dengan sebaik-baiknya. Terkendala software forensik yang mahal? Menurutnya ini bukan masalah.

"Banyak yang mengeluh ilmu digital forensik itu mahal. Saya menganjurkan menggunakan software digital forensik open source. Software open source kalau digunakan dengan optimal, fungsinya sama dengan software yang harga ribuan dolar," ungkap Ruby memberi semangat.

Mengetahui ilmu IT secara menyeluruh adalah saran berikutnya dari ayah satu orang putri ini. Meski tidak wajib, namun berdasarkan pengalaman Ruby, memiliki pengetahuan IT secara general sangat membantu pekerjaannya.

"Saya bukannya bisa semua, tapi saya tahu. Saya mulai terjun di ranah aplikasi, kemudian ke network dan lain-lain. Setelah di digital forensik, tidak peduli peduli barang bukti dan jenis aplikasi yang dipakai apa, kita harus bisa. Kalau gak, ya bengong saja," kelakar Ruby.

Kesenangannya mempelajari teknik hacking pun dirasa Ruby memberikan manfaat tambahan. Dalam kasus cybercrime dan intelektual properti tertentu, seorang analis digital forensik harus tahu bagaimana cara hacker bekerja.

"Bagaimana mau menangkap hacker kalau gak tahu cara kerja mereka. Itulah makanya saya juga senang belajar hacking dan update terus," ungkapnya.

Kiat lainnya menurut Ruby, seorang analis digital forensik harus terus memperbarui pengetahuannya mengenai teknologi. Dia memberi contoh, mengetahui perkembangan perangkat tablet.

"Bagaimana kita bisa melakukan forensik terhadap tablet? Hampir beberapa bulan akan ada jenis tablet baru dengan sistem operasi yang berbeda-beda pula. Itu kita harus tahu," jelasnya.

Yang terakhir dan tak kalah penting, adalah kesiapan mental. Mengingat digital forensik selalu berhubungan dengan hukum, para praktisi di bidang ini harus siap, terutama jika diminta menjadi saksi ahli di pengadilan.

"Tak perlu ditakuti. Ilmu digital forensik itu ilmu IT yang bersebelahan dengan hukum. Enaknya, kita dapat belajar ilmu hukum baik dari polisi maupun lawyer," ujarnya.

Sementara ketakutan menjadi saksi ahli, menurut Ruby akan hilang dengan sendirinya jika orang tersebut merupakan seorang analis digital forensik yang profesional, jujur dan kompeten.

"Analisa yang kita sampaikan hasilnya pasti akan sama terus. Jadi kenapa harus takut. Mungkin yang perlu diperhatikan adalah bagaimana kita merespons berbagai pertanyaan di pengadilan. Itu akhirnya akan terbiasa dan malah akan lebih berani.
(rns/rou)







Hide Ads