Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Kolom Telematika
Revolusi Mobile yang Sesungguhnya
Kolom Telematika

Revolusi Mobile yang Sesungguhnya


- detikInet

Jakarta - Saya dengar sebuah kisah kejahatan di Kamboja, belom lama ini, yang menggambarkan cara yang salah untuk menggunakan ponsel Anda. Dan juga bagaimana sebenarnya penggunaan teknologi telah begitu maju di Asia.

Kejadiannya seperti ini: seorang pria di Phnom Penh mencoba memeras uang dari mantan atasannya dengan pesan anonim yang mengancam nyawanya. Upaya ini memang kemudian gagal. Menurut Cambodia Daily, kegagalan utamanya adalah karena ia meminta sang korban untuk mentransfer uang ke rekening Wing, ini adalah sistem yang memungkinkan transfer uang dari dan ke ponsel.

Tidak perlu jadi ilmuwan jenius untuk mengetahui bahwa sebaiknya jangan melibatkan nomor telepon pribadi saat melakukan hal-hal seperti mengirimkan ancaman via SMS. Tebakan saya sih, orang ini mungkin tak secerdas itu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Nah, ponselnya, di sisi lain, adalah perangkat yang 'smart'. Penjahat kelas teri ini memakai layanan yang bisa jadi akan membuat iri banyak orang di Amerika Serikat, di mana kebanyakan transfer masih dilakukan lewat cek kertas, padahal untuk sebuah negara yang penggunaan smartphone untuk memanfaatkan web dari mana saja makin menggila.

Asia, Memimpin Inovasi

Faktanya, Asia memang telah menjadi pimpinan dalam inovasi di teknologi mobile internet selama beberapa tahun ini. Di satu sisi, ada tempat-tempat seperti Jepang dan Korea, di mana orang membayar tiket kereta api dan menonton film streaming di ponsel mereka sejak bertahun-tahun lalu.

Di sisi lain, ada banyak orang cerdas di seantero Asia Tenggara yang memanfaatkan SMS semaksimal mungkin sebagai sebuah cara yang sederhana tapi tangguh untuk memanfaatkan jajaran server yang terhubung ke internet, menjadikan ponsel mereka sebuah komputer.

Petani di pedesaan India bisa mengetahui harga produk pertanian saat berada di ladang, beberapa perusahaan Asia menggunakan ponsel untuk menghadirkan layanan keuangan ke sejumlah besar orang di negara berkembang di wilayah yang tak mau disentuh oleh bank. Contoh lainnya adalah G-Cash di Filipina.

Di Kenya, melalui SMS, Anda bisa membeli asuransi cuaca dan menerima pembayarannya langsung ke ponsel jika hujan tidak turun pada kurun waktu tertentu. Sebuah perusahaan di India telah membangun sebuah sistem operasi mobile yang utuh berdasarkan aplikasi berbasis SMS, termasuk apps untuk Google dan Facebook.

SMS masih hidup dan sejahtera dan mampu melakukan hal-hal yang lebih jauh daripada yang pernah dilakukannya sebelum ini.

Revolusi Mobile?

Banyak orang ramai meneriakkan 'mobile revolution' belakangan ini. Tapi apa yang membuat 2011 begitu berbeda dari beberapa tahun lalu?

Perubahan yang terjadi ini didorong oleh pergeseran fundamental, yaitu yang menggabungkan smartphone dan ponsel paling sederhana. Komunitas mobile di Asia bergabung ke internet yang terbuka dari segala sisi, apakah melalui SMS, atau browser smartphone yang bisa me-render semua halaman web, atau sistem operasi open source seperti Android. Di semua kejadian itu, inovasi bisa dengan mudahnya menyebar ke berbagai perangkat dan platform.

Memang tidak selalu demikian. Di beberapa negara, ponsel dengan fungsi canggih diperkenalkan tapi tidak bisa berinteraksi dengan internet atau jaringan lain. Di negara lain lagi, setiap ponsel baru selalu berarti adanya persyaratan software baru bagi pengembang.

Bahkan, belum terlalu lama berlalu ketika Google pun harus menghabiskan banyak waktu untuk membuat aplikasi mobile maps kami berjalan di berbagai ponsel berbeda, sama banyaknya dengan waktu yang kami butuhkan untuk mengembangkan produk itu sendiri.

Saat ini, gambarannya sudah jauh berbeda. Di sisi yang paling bagus, smartphone menyediakan platform terbuka yang bisa dimanfaatkan developer dan pemanufaktur manapun dan Asia segera mencengkeram peluang ini.

China adalah negara kedua terbesar dalam hal apps yang di-download. Perkiraannya, Asia akan menjadi global hub untuk pengembangan app dalam beberapa tahun ke depan.

Baik Jepang maupun Korea bisa menghadirkan hits internasional untuk iPhone dan Android yang beberapa tahun lalu bahkan akan sulit untuk sekadar menyeberang perbatasan. Seiring makin murahnya smartphone, kekuatan seperti ini akan menyebar di seluruh Asia. Kami memperkirakan, dalam beberapa tahun ke depan, ponsel layar sentuh berbasis browser dan berharga murah akan dimiliki oleh miliaran orang.

Baik mereka yang menjual asuransi berbasis SMS atau developer asal Jepang yang membuat app foto untuk Android, akan bisa memanfaatkan teknologi itu ke seluruh bumi dalam waktu singkat, Dan itulah mengapa keterbukaan adalah pondasi yang lebih meyakinkan bagi Asia, daripada sistem tertutup alias walled garden.

Kita memang tidak pernah boleh meremehkan kekuatan dari sebuah kemampuan mengirimkan informasi tanpa peduli batasan. Bulan Oktober lalu, Perdana Menteri Kamboja dan Thailand menyelesaikan sebuah krisis soal perbatasan lewat jalur belakang. Apakah mereka melakukannya lewat perbincangan di 'telepon merah' jalur khusus? Tidak. Hal itu dilakukan melalui saling berkirim SMS.



Eric SchmidtTentang Penulis: Eric Schmidt adalah Executive Chairman Google. Ia pernah menjabat sebagai CEO Google dan dewan direksi di Apple.
Β 


(wsh/wsh)






Hide Ads