Mengutip data dari biro riset IDC, BSA menyatakan bahwa persentase pembajakan software di Indonesia mencapai 87% dengan nilai kerugian USD 1,32 miliar. Data untuk tahun 2010 itu tidak berbeda jauh dari sebelumnya.
"BSA sudah melakukan berbagai kegiatan agar masyarakat mulai paham dan menghargai hak cipta atas software. Sedangkan tindakan penegakan hukum dilakukan oleh polri. Namun patut diingat penetrasi hardware di Indonesia sangat luar biasa yang membuat pembajakan software tetap marak," kata Donny A. Sheyoputra selaku Perwakilan dan Juru Bicara BSA di Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Piagam HKI yang diperkenalkan sejak tahun 2008 dan kembali diluncurkan pada hari ini diklaim Donny cukup diminati perusahaan dan membantu menekan angka pembajakan di kalangan korporat. Menurut dia, sudah sekitar 88 perusahaan memiliki piagam HKI.
"Ini tampaknya angka yang kecil. Namun ada perusahaan yang memiliki sampai ribuan cabang yang tersebar di Indonesia. Jadi penetrasinya tidak kecil," tambahnya.
Piagam HKI sepintas tidak memiliki dampak signifikan karena persentase pembajakan cenderung stagnan. Menurut Donny, hal ini disebabkan karena HKI hanya ditujukan di kalangan korporat saja sedangkan di kalangan konsumer pembajakan masih marak. Ini membuat angka pembajakan tetap tinggi.
"Kita berharap semakin banyak perusahaan yang mengadopsi HKI dan memakai software legal karena ini bisa menjadi kekuatan tersendiri. Semakin banyak perusahaan yang memakai, maka kemungkinan nanti angka pembajakan minimal tidak naik," katanya di Jakarta, Senin (30/5/2011).
Perusahaan yang memiliki piagam HKI mendapatkan berbagai keuntungan. Misalnya bisa menjalankan usaha dengan tenang tanpa takut terkena sanksi hukum sampai menaikkan reputasi perusahaan di mata klien.
(fyk/ash)