Jumat, 13 Mei 2011 11:16 WIB

Waspadai Kelahiran 'One Click Activism'

- detikInet
Jakarta - Aktivitas media sosial merespons isu-isu terkait seolah datang dan pergi. Bermula dari gerakan 1.000 Facebooker mendukung tokoh-tokoh yang diangkat di media sosial seperti Koin Prita, Bibit-Chandra, dan sebagainya, kini aktivitas tersebut kian menjamur.

Nah, pertanyaanya adalah seberapa efektifkah itu. Jangan-jangan orang
berpikir hanya dengan menekan sebuah tombol 'like' di Facebook, ia sudah merasa bisa 'mengubah dunia', dengan jutaan orang yang melakukan hal yang sama. Padahal realisasi aktivitas tersebut hanya dilakukan segelintir orang saja.

Inilah yang dikhawatirkan dalam sebuah aktivisme sipil melalui media sosial di Indonesia. Kelahiran gerakan 1 klik, atau 'one click activism' akan sia-sia tanpa realisasi yang nyata.

"Bukan internet atau medianya, tapi bagaimana kelompok-kelompok tersebut memberi ruang pada aktivitas online untuk menggagas tindakan yang bukan online," ujar Yanuar Nugroho, seorang peneliti dari University of Manchester, ketika memaparkan hasil riset bertajuk 'Media Sosial Sebagai Pemantik Perubahan Sosial di Indonesia'.

Dalam diskusi bertempat di Goethe Haus, Kamis petang (12/5/2011), ia pun menekankan bahwa segala bentuk aktivitas media sosial secara online juga harus diikuti secara offlinenya. Publik harus berpartisipasi tak hanya di Twitter atau Facebook, melainkan langkah konkret yang nyata.

Ia pun memberi sebuah contoh bagus yang dilakukan Jalin Merapi ketika menangani pengungsi merapi. Ketika itu ribuan pengungsi korban bencana Merapi membutuhkan bantuan pangan malam itu juga.

Sebuah isi pesan yang disebar melalui Twitter, bergulir secara cepat, merata di kota-kota besar seperti Jakarta. Pesan tersebut intinya meminta bantuan 6.000 porsi nasi bungkus. Tepat setelah itu telepon posko bantuan berdering, dan banyak pihak melakukan aksi nyata dengan gerakan 'offline' untuk pengiriman nasi bungkus.

Jejaring sosial semacam Twitter terbukti nyata dan bermanfaat tak hanya sebatas komunikasi berita, tetapi untuk hal yang lebih penting yaitu kemanusiaan.




(fw/ash)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed