Ya itu artinya, jika masih ada konsumen yang berminat membeli perangkat tersebut, mereka hanya bisa menemukan mesin tik bekas. Itu pun mungkin hanya bisa didapatkan di toko benda antik atau semacamnya.
"Kami tak lagi mendapat banyak pesanan," kata General Manager Godrej and Boyce, Milind Dukle, dikutip detikINET dari Tech Spot, Rabu (27/4/2011).Β
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia menambahkan, saat ini mungkin menjadi kesempatan terakhir bagi mereka yang masih mencintai mesin tik. "Pasar utama kami adalah kantor-kantor pemerintah, pengadilan dan lembaga pertahanan," ujarnya.
Godrej and Boyce yang berlokasi di Mumbai, India, tercatat telah beroperasi selama 60 tahun. Selama dekade ini, perusahaan tersebut telah memproduksi dan menjual puluhan ribu unit mesin tik setiap tahun.
Awal 1990, Godrej and Boyce masih sanggup menjual hingga 50 ribu unit mesin tik. Namun pada 2010, kurang dari 20 tahun kemudian, angka tersebut menurun menjadi hanya 800 unit. Kini, tersisa 200 unit mesin tik yang sebagian besar menggunakan bahasa Arab.
Meluasnya pemberitaan soal Godrej and Boyce ini mendapati tanggapan beragam. Diketahui masih ada pabrik mesin tik lainnya bernama Swintec di New Jersey, Amerika Serikat. Juru bicara pabrik mesin tik ini menyebutkan bahwa ceruk pasar untuk perangkat ini masih tetap hidup dan cukup 'sehat'.
Laporan lain yang dilansir Fox News menyebutkan, Swintec memiliki fasilitas manufaktur mesin tik di Jepang, Malaysia dan Indonesia. Sebagian besar pengguna mesin tik di negara-negara ini adalah kantor-kantor yang masih perlu mengisi formulir penting seperti akta kelahiran hingga catatan di kepolisian atau penjara.
(rns/ash)