Fenomena ini cukup menimbulkan kelucuan sekaligus keprihatinan. karena ingin mempunyai follower yang banyak, beberapa tweeple 'pemula' sering melakukan hal-hal lucu, minta folbek. Bahkan ada sebuah akun yang dengan terang-terangan menjual follower. Dengan jumlah rupiah tertentu kita bisa membeli sejumlah follower. Hal ini membuktikan, orang-orang tersebut belum seutuhnya memahami bagaimana memanfaatkan medium twitter ini.
Bagi sebagian orang yang memang sudah mempunyai networking luas, bisa dipastikan semua teman realnya sebelum ada twitter akan saling follow. Orang yang punya background banyak teman, kemungkinan besar akan juga mempunyai follower yang banyak juga. kemungkinan besar untuk menjadi buzzer akan semakin besar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Konon batas psikologis jumlah follower seorang layak menjadi buzzer minimal 3000. Namun belum tentu juga seorang tweeple yang mempunyai jumlah follower sebanyak itu "layak" mengkampanyekan produk, menciptakan konversasi untuk mencapai engagement, karena ada hal penting yang harus mereka kuasai yakni memahami mediumnya yang hanya 140 karakter sehingga bisa berkomunikasi dengan "audien-nya secara efektif.
Namun begitu follower seseorang melonjak tajam mencapai ratusan ribu, perlu strategi baru untuk para selebtwit tersebut. Ketika jumlah follower sudah mencapai ratusan ribu, dia pasti akan kewalahan untuk berkomunikasi atau merespon semua follower yang me-mention-nya. jika tidak dilakukan, follower akan merasa terabaikan. Sehingga tweeple dengan jumlah follower tersebut sudah tidak cocok lagi untuk tujuan engagement dengan audience.
Selain itu buzzer dengan jumlah follower ratusan ribu tersebut akan merasa tidak bebas mengomentari sebuah produk di twitter. Karena bagaimanapun caranya ia ngetwit, para follower akan mencurigai twitnya sebagai twit berbayar. (Dugaan ini mungkin berlebihan, karena beberapa tweeple malah ada yang belum tahu apa itu twit berbayar)
Dan buzzer dengan jumlah follower ratusan ribu pasti bayaran yang lebih mahal. Memang sampai sekarang belum ada penelitian yang menyuguhkan data, mana yang lebih efektif memakai satu orang buzzer yang jumlah followernya ratusan ribu atau beberapa buzzer yang jumlah followernya biasa-biasa saja.
Yang pasti, untuk setiap buzzer belum tentu cocok dipakai untuk kampanye semua produk. Andai dipaksakan kampanye akan terasa kaku, garing dan terasa dipaksakan. untuk itu terus perlu dicari buzzer-buzzer baru yang sesuai dengan produknya sehingga konversasi di twitter berjalan mulus, follower tidak merasa sedang digiring pada image yang berkaitan dengan produk tertentu. karena begitu kampanye produk diketahui, konversasi (mungkin) akan mati.
Untuk itu perlu juga selalu menyiapkan strategi baru, karena strategi yang lama, yang sudah pernah dipakai dan diketahui publik, kemungkinan besar tidak akan sesukses kampanye sebelumnya.
![]() | Tentang Penulis: Karmin Winarta adalah seorang blogger. Ia bisa dihubungi di fanabis.blogdetik.com atau melalui akun @fanabis di Twitter. |
