Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Kolom Venus
Peradaban pun Butuh Basa-Basi
Kolom Venus

Peradaban pun Butuh Basa-Basi


- detikInet

Jakarta - Di suatu masa dulu, pernah saya baca entah di buku apa, bahwa β€˜peradaban butuh basa basi’.

Sekarang, di era ketika semua orang dapat dengan mudah terlibat dalam percakapan virtual dengan siapa pun, bahkan dengan seseorang yang belum pernah dijumpai di dunia nyata, kalimat di atas semakin terasa kebenarannya.

Di twitter, sering kali kita jumpai status update yang memancing orang lain untuk nyamber. Entah karena tweet-nya menyangkut sesuatu yang aktual, atau memang provokatif, atau sekadar karena lucu. Bukan salah siapa-siapa jika kemudian reaksi yang datang pun beragam.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Interaksi yang terjadi setelah itu bisa bermacam-macam. Dari temen-teman sesama pekicau, kadang kita bisa mendapat respon atau bahkan masukan yang memang kita butuhkan. Namun, tak jarang, ketegangan muncul tanpa disengaja, hanya gara-gara satu atau dua tweet yang untuk ukuran kita β€˜kurang sopan’.

Ah, ya. Belantara teks yang menyesatkan, seperti kata Paman Tyo. Dunia kata-kata yang dingin tanpa ekspresi. Hanya deretan huruf yang tersusun menjadi kata dan kalimat, yang mentah-mentah kita terima sebagai teks, tanpa kesempatan mendengar intonasi si β€˜pembicara’, atau ekspresi yang terpancar ketika dia mengucapkan kalimat tersebut.

Kalau sudah begini, semakin terasa bahwa memang ada sesuatu yang tak terjembatani. Orang boleh saja bilang bahwa nyaris tak ada batas lagi antara dunia nyata dan ranah maya.

Deretan teks, ternyata tidak selalu memiliki kemampuan untuk mengungkapkan apa yang kita ingin sampaikan. Kita berharap penerima pesan memahami, bahwa maksud kita adalah A, tapi yang tersampaikan malah jauh dari pokok perkara. Dan masalah baru, yang kadang sepele kadang panjang urusannya, sangat mungkin muncul dari situasi-situasi seperti itu.

Seorang kawan pernah meminta saran lewat twitter, tentang sesuatu yang berhubungan dengan masalah kesehatan yang tengah dia hadapi. Sesuatu yang sangat lumrah kita temui sekarang ini. Kebetulan, urusannya lumayan dekat dengan nyawa, dengan hidup dan matinya seorang manusia.

Reaksi yang datang, bisa ditebak, tidak semuanya menyenangkan. Beberapa orang bahkan menanggapi pertanyaan penting si kawan ini dengan guyonan yang sungguh tidak manusiawi. Dan persis seperti dugaan saya, kawan saya ini seketika seperti tersulut sumbunya, dan meledaklah dia. Tidak bisa dihindari, kedua pihak kemudian saling bersahut-sahutan dengan kalimat-kalimat yang semakin panas.

Saya jadi berpikir, alangkah baiknya jika kita semua membiasakan diri untuk lebih sensitif dan berhati-hati menanggapi sesuatu. Apa pun itu. Di media mana pun komunikasi terjadi. Terlebih lagi, pasti, di dunia virtual. Di dunia, di mana kita tak bisa mendengar nada dan suara lawan bicara, apatah lagi memerhatikan roman mukanya.

Sekadar saran saja, yang mungkin kurang penting juga, sih. Biasakan menambahkan emoticon seperlunya di setiap akhir kalimat yang kita tuliskan. Hal sepele yang akan sangat terasa bedanya.

Bayangkan seseorang merespon sesuatu, dengan sederet teks yang, mungkin, secara literal, terasa kasar. Lalu bayangkan, jika kalimat yang persis sama, dia tutup dengan sebuah emoticon β€˜:))’ atau β€˜=))’ yang menggambarkan bahwa dia menuliskannya dengan tertawa-tawa, tanpa bermaksud kasar sedikit pun. Hanya becandaan biasa antar teman, sekadar nyamber iseng untuk meramaikan percakapan, bahkan mungkin niatnya memang memberikan sesuatu untuk menghibur si pengirim pesan.

Jadi memang benar, yang penting bukanlah apa yang kita sampaikan, melainkan bagaimana cara kita menyampaikannya. Seperti kalimat sederhana di buku yang pernah saya baca, memang benar, bahwa peradaban pun butuh basa-basi.

Selamat menikmati akhir pekan :)



VenusTentang Penulis: Venus adalah seorang blogger dan social media specialist. Ia bisa dihubungi di http://venus-to-mars.com atau melalui akun @venustweets di Twitter.
(wsh/wsh)







Hide Ads