Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Kolom Paman Tyo
Jangan Dimuat di Facebook!
Kolom Paman Tyo

Jangan Dimuat di Facebook!


- detikInet

Jakarta - Dari tribun atas, dengan suara tak jelas karena dilindas gema ruang, Bu Guru mengingatkan para anggota keluarga murid, β€œKami mohon Bapak, Ibu, dan Saudara-saudari tidak memasukkan foto dan video acara ini ke Facebook.” Sayang, Bu Guru tak menyebut Twitter.

Saya tak tahu apakah Sabtu pekan lalu itu, dari sebuah gedung olahraga di pinggiran Jakarta, sudah ada yang telanjur lancang menggunggah gambar melalui ponsel karena lupa dan terburu nafsu. Saya cek barusan sudah tidak ada, mungkin sudah dihapus.

Sore itu adalah gladi kotor tim sebuah sekolah untuk suatu kejuaraan nasional akhir Desember ini. Menyiarkan persiapan tim – dari meteri, olah gerak, sampai seragam – sama saja membocorkan informasi kepada kompetitor. Apalagi berkali-kali sekolah itu juara pertama – dan kadang kedua. Selalu diintip lawan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Euforia media sosial memang bisa membuat sebagian orang lupa diri, bahkan berlomba ingin jadi reporter terlekas. Apa yang mestinya konfidensial, dan bisa didapat karena kepercayaan, dengan mudah akan diumbar. Kalau banyak respon dan reaksi akan bangga dan puas – bahkan kecanduan.

Bagi kaum pengumbar ini ada paket berisi tiga kilah andalan:

  • Pertama: β€œSekarang zamannya keterbukaan.”
  • Kedua: β€œSekarang ini zamannya berbagi dan pamer.”
  • Ketiga: β€œKalau nggak mau ketahuan ya jangan ngundang orang dong.”

Nah, untuk kasus di luar Sabtu itu, saya pernah menanya kaum pengumbar alias pembocor bagaimana kalau mereka yang menjadi korban. Misalnya setelan mempelai untuk hari pernikahan disiarkan di Twitter dan Facebook seminggu sebelum hari H. Atau judul berikut abstrak skripsi maupun tesis, terutama bagan yang istimewa, disiarkan sebelum ujian. Lebih celaka lagi, materi untuk pitching disiarkan sebelum pertemuan dengan calon klien.

Penyiar kebocoran itu bisa anggota tim, lingkaran dalam yang dekat tim, maupun orang luar.

Anda tahu apa rata-rata jawaban kaum ini? Merenges. Ya, hanya merenges. Hanya satu-dua yang mengaku, β€œKalo dibalik jelas nggak mau dong.”

Merenges dan lepas tanggung jawab itu gratis. Nggak perlu beli. Stoknya berlimpah. Semua orang bisa dan punya.

Butuh waktu agar orang makin dewasa di tengah euforia media sosial.



Paman TyoTentang Penulis: Antyo Rentjoko, dikenal juga dengan julukan Paman Tyo, adalah blogger di beberapa tempat yang mengagregasikan posting di antyo.rentjoko.net
(wsh/wsh)





Hide Ads