Seperti detikINET kutip dari Fox News Channel, Rabu (4/8/2010), kontroversi itu muncul ketika Facebook akan membangun pusat penyimpanan data di negara bagian Oregon, Amerika Serikat (AS).
Rencana ini ditentang Greenpeace karena untuk mengoperasikan pusat data tersebut, Facebook akan menghabiskan pasokan listrik 30 megawatt atau sama seperti kebutuhan listrik 30.000 rumah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dilansir dari News, pejabat kota Prineville, Oregon, sendiri justru tidak setuju dengan penolakan Greenpeace. Mereka berdalih bahwa dengan pembangunan tersebut, lebih dari 200 lapangan pekerjaan akan terbuka sehingga mengurangi pengangguran.
Negara bagian Oregon memiliki tingkat pengangguran yang cukup tinggi, yaitu 16,4% penduduk. Sebelumnya, di kota itu terdapat lima pabrik kayu besar, namun sudah ditutup karena adanya program pembatasan penebangan kayu untuk menjaga lingkungan.
Kota Prinville sengaja dipilih karena memiliki iklim gurun yang tinggi dan dingin pada malam hari, hampir 4 derajat celcius, bahkan selama musim panas. Kondisi dingin akan membuat server tidak cepat panas sehingga penggunaan listrik akan lebih sedikit.
Facebook sendiri membantah Greenpeace, serta mengklaim pembangunan pusat data yang menghabiskan dana US$ 200 juta itu nantinya, akan dibangun dengan standar hijau alias ramah lingkungan.
(rou/rou)