Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Kolom Telematika
Social Media Bukanlah Juru Selamat
Kolom Telematika

Social Media Bukanlah Juru Selamat


- detikInet

Jakarta - Euforia Social Media bukan hanya ada di kalangan pengguna biasa, tapi juga di kalangan pengelola brand. Maka sekarang kita mulai sering melihat kehadiran brand-brand di berbagai bentuk Social Media, contohnya di blog, Facebook, Twitter, hingga Foursquare.

Social media adalah salah satu bagian dari strategi marketing. Sebagai salah satu cara berkomunikasi, maka Social Media bukanlah juru selamat yang bisa menjadi jawaban atas semua permasalahan brand. Brand Infiltration mengidentifikasi beberapa hal berikut.

If your product sucks, social media won’t fix it

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bila produk anda buruk, para pengguna social media bisa dengan mudah menumpahkan kekecewaannya melalui social media. Dan kehadiran brand di social media tidak akan membantu selama produknya tidak diperbaiki.

However,if your Customer Service sucks,social media can help

Namun apabila ada kekecewaan konsumen dalam koridor pelayanan yang dia dapatkan (bukan produknya), keberadaan brand di social media dapat menjadi sarana mudah buat konsumen untuk menyampaikan keluhannya.

Juga brand dapat menggunakan social media untuk merespon dengan mudah dan cepat serta personal. Brand pun mesti memikirikan cara pelayanan konsumen yang baik via social media, juga tetap memantau via search tentang berbagai keluhan layanan, dan meresponnya dengan cepat bahkan sebelum mereka melaporkan secara resmi.

If your repeat business sucks, social media can help

Repeat business adalah hal yang penting di era persaingan ketat sekarang ini. Social media dapat digunakan untuk membangun hubungan yang baik dengan konsumen, dengan menjadikan mereka tetap bersentuhan dengan brand secara personal,tetap saling berbagi informasi, dan konsumen mendapat manfaat, sehingga ujungnya bisa meningkatkan repeat business.


If your company’s word of mouth sucks, social media can help

Word of Mouth alias 'gethok tular' menjadi semakin cepat di era social media. Segala macam cerita dan isu direspon dan menyebar dengan cepat di era Facebook dan Twitter ini. Brand harusnya bisa memanfaatkannya untuk memperkuat strategi Word of Mouth Marketingnya.

Saya perlu garisbawahi, social media adalah sebuah bagian dari strategi marketing. Sehingga tidak bisa berdiri sendiri. Jadi sudah saatnya para pengelola brand memikirkannya secara terintegrasi dengan berbagai komponen marketing dan media komunikasi lainnya, baik online maupun offline.

Menurut anda ?

Penulis merupakan GM Retail & Consumer Market detikcom. Bisa dihubungi melalui @andrias98 pada twitter, atau email redaksi@detikinet.com. (fw/fw)





Hide Ads