Kisah naas ini menimpa seorang pembaca detikINET seperti dituturkan dalam email yang diterima redaksi, Rabu (20/1/2010). Pria bernama Ahmad itu tergerak menceritakan pengalamannya setelah melihat kasus yang menimpa beberapa nasabah BCA di Bali.
Menurut pengakuan Ahmad, salah satu nasabah prioritas BCA, tagihan kartu kreditnya sempat melonjak jutaan rupiah untuk transaksi yang tak pernah dilakukannya. "Lonjakan tagihan terjadi setelah saya menggunakan kartu kredit untuk membayar tagihan makan di sebuah tempat makan di Kuta, Bali," tutur pria yang berdomisili di selatan Jakarta itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun tak dinyana, sejak transaksi menggunakan kartu kredit di Bali, tagihannya untuk bulan Januari dan Februari langsung melonjak hingga hampir Rp 10 juta. Setiap harinya, minimal tercatat ada tiga kali penggunaan kartu kredit yang tak disadari Ahmad.
"Saya sudah melapor ke BCA. Namun sayangnya mereka kurang responsif. Investigasi pun akhirnya dilakukan BCA setelah saya desak terus. Hasil investigasi pun baru keluar akhir Mei atau empat bulan lebih setelah saya melapor akhir Januari," keluh pria dengan satu anak ini.
Meski BCA diakuinya sempat curiga aksi pembobolan kartu kredit ini akibat aksi duplikasi kartu dan skimming (pencurian informasi), namun sayangnya BCA tetap tak mau mengakui kelemahan sistemnya dan membebankan kerugian sepenuhnya kepada nasabah melalui surat yang ditandatangani petinggi BCA.
Alhasil, Achmad yang kadung jengkel dengan perlakuan BCA, pun segera menutup rekening kartu kreditnya. Terlebih, ia telah membayar tagihan kartu kredit yang tak disadarinya telah jebol, saat jatuh tempo akhir Januari.
"Bagaimana saya tidak tambah jengkel. Sejak BCA lepas tangan atas kasus ini, mereka pun tidak malu untuk menawari saya kartu baru untuk tetap berlangganan
kartu kredit BCA. Kalau sudah seperti ini, siapa yang masih mau?" pungkasnya.
(rou/wsh)