Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Catatan Nol Kilobyte
Ketika Sang Raksasa Putih Ngambek di Tanah Merah
Catatan Nol Kilobyte

Ketika Sang Raksasa Putih Ngambek di Tanah Merah


- detikInet

Jakarta - Bumi gonjang-ganjing, langit kelap-kelop. Sang raksasa putih geram di singgasana. Kerajaannya di Tanah Merah terusik oleh serangan-serangan tersembunyi. Weladalah, lakon apa lagi ini?

Google, sang raksasa putih, gemar mendirikan kerajaannya di seluruh penjuru bumi. Setelah jadi raja diraja di Amerika, ekspansi kerajaan Google menyebar ke empat penjuru mata angin bahkan hingga ke China, Tanah Merah yang menjanjikan.

Janji-janji yang lahir di China tentunya tak jauh dari gelontoran Yuan dari iklan di halaman Google. Betapa tidak menggiurkan, pengguna internet di China mencapai sekitar 340 juta dengan total penduduk mencapai 1.3 miliar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Harta karun dari timur itu membuat Google nekat merantau ke China dengan segala kontroversinya. Bahkan Google, yang punya moto 'do no evil' mau tunduk pada aturan setempat soal sensor (sebuah praktek yang dicibir oleh aktivis demokrasi di Amerika Serikat).

Tapi sejauh mana petualangan ke timur jauh itu berhasil? Di China Google masih belum sanggup menggoyangkan dominasi pendekar setempat bernama Baidu. Bahkan 'kaisar'-nya Google di China, Kai Fu Lee, akhirnya hengkang dari kubu putih.

Tapi bukan protes dan cibiran, juga bukan perginya Lee, yang akhirnya membuat Google gundah-gulana. Google akhirnya terusik oleh serangan-serangan yang dilakukan pihak-pihak tak dikenal, yang digosipkan juga berasal dari dalam China, terhadap infrastruktur Google.

Ibaratnya, keberadaan kantor Google di China dijadikan pintu gerbang untuk pihak-pihak tak dikenal menyerbu ke jantung hati sang raksasa putih. Ini sudah bukan sekadar pagar makan tanaman, tapi pagar membobol pintu rumah dan berusaha mengambil makanan dari dapur!

Pembobolan Google itu, konon, dilakukan untuk memburu pihak-pihak penentang China. Ini adalah para aktivis kebebasan berpendapat, kemanusiaan dan demokrasi asal China. Baik mereka yang berdiam di Eropa, China atau bahkan di AS.

Google Mau Hengkang

Kejadian ini membuat Google geram. Dengan lantang sang raksasa pun mengumumkan niatannya untuk hengkang dari China apabila tak ditemukan jalan tengah yang memuaskan.

"Kami telah memutuskan tak lagi menyensor Google.cn, dan kami akan berdiskusi dengan pemerintah China tentang bagaimana kami bisa mengoperasikan mesin pencari tanpa filter namun sejalan dengan hukum. Kami menyadari, ini akan berujung pada penutupan Google.cn dan berpotensi juga pada penutupan kantor kami di China," ujar Google.

Niatan Google ini sontak memicu reaksi dari berbagai kalangan di AS. Kebanyakan suara memuji-muji Google yang berani meninggalkan pasar gemuk China demi idealisme.

Eh, tapi tunggu dulu. Apakah Google sudah benar-benar hengkang? Nyatanya toh Google masih beroperasi di China, ancaman hengkang masih belum diwujudkan dan tentunya iklan di Google tetap tersaji bagi jutaan pasang mata di China.

Diperkirakan Google menguasai sekitar 30 persen dari pengguna internet di China. Kasarnya, ada sekitar 69 juta pengguna internet di China yang melototin halaman --dan tentunya, iklan-- Google.

Sebagian pihak bukan hanya sadar pada fakta ini, tapi juga dengan tegas mengatakan pada Google: kemane aje lu! Jika memang yang jadi alasan Google adalah idealisme, bahwa pihaknya tak mau bekerjasama dengan upaya-upaya membungkam aktivis kemanusiaan dan demokrasi, mengapa dari dulu Google bersedia menuruti permintaan sensor dari China?

Lantas Apa?


Lantas, apa jadinya kalau Google benar-benar hengkang dari China? Satu hal yang pasti, Google akan memalingkan wajah (atau tepatnya, kantong) dari sebuah pasar besar yang menggiurkan.

Tindakan itu saja sudah cukup untuk membuat 'gemetar' pesaing-pesaing Google. Sebuah perusahaan yang berani meninggalkan pasar sebesar itu pasti super percaya diri pada pasarnya di luar.

Di sisi lain, ada yang berharap, hengkangnya Google akan mendorong hengkangnya banyak perusahaan teknologi tinggi lain. Dan itu berarti kesempatan China untuk belajar dari banyak perusahaan teknologi akan berkurang.

Jika itu yang terjadi, ada potensi memberi pukulan yang cukup keras bagi China. Meskipun banyak perusahaan China yang kini juga sudah punya kiprah internasional dan sanggup melakukan inovasinya sendiri untuk menyerbu dunia.

Atau, mimpi yang lebih jauh, ancaman Google akan membuat China luluh dan membuka (atau paling tidak mengendurkan) kekangnya pada informasi di internet. Jika ini yang terjadi, aktivis demokrasi dan kebebasan berpendapat akan bersorak-sorai.

Geraman dan hentakan dari Istana Raksasa Putih mungkin tak akan terlalu terasa di Indonesia. Tapi lakon ini bisa jadi pelajaran kepada Indonesia tentang cara-cara menjamu investor.

Dari para penguasa Tanah Merah kita bisa belajar bahwa investor asing tak selamanya jadi raja, dalam hal tertentu 'negara' bisa memaksakan kebijakannya pada investor asing. Dari sisi Google, kita bisa belajar bahwa pihak asing juga punya batasan sejauh mana mereka bisa ditekan.

Tak perlu terlalu pusing dengan sengketa, apalagi langsung ambil posisi di salah satu kubu tanpa melihat dengan jernih. Sebelum ikut terombang-ambing oleh hentakan sang raksasa, lebih baik kita hilangkan segala prasangka buruk dan kembali ke nol kilobyte.

Catatan Nol Kilobyte merupakan opini dari Wicak Hidayat, Managing Editor / Redaktur Pelaksana detikINET.com. Opini ini merupakan pendapatnya pribadi dan tidak mencerminkan pendapat institusi tempatnya bekerja. (wsh/wsh)







Hide Ads