Pasalnya menurut Irwin Day, Ketua Asosiasi Warung Internet Indonesia, pengakses situs porno itu menghabiskan lebih banyak bandwidth dibanding pengakses internet biasa.
"Mereka (pengakses situs porno-red.) lebih boros bandwidth karena situs-situs porno itu kontennya lebih berat," ujarnya kepada beberapa wartawan di sela penandatanganan kerja sama penyediaan Mirror DNS Nawala di Gedung STO Gambir, Jakarta, Selasa (17/11/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal senada juga disuarakan Wakil Ketua ID-SIRTII M. Salahudien. Bahkan menurutnya, jika diibaratkan ada 10 user dan 1 di antaranya merupakan pengakses pornografi dan 9 lainnya pengakses biasa. Maka yang lebih boros bandwidth itu tetap pengakses esek-esek itu.
Tak ayal, DNS Nawala yang didapuk untuk menyaring konten-konten negatif diklaim mampu menghemat konsumsi bandwidth hingga 30%.
Selain itu yang harus diingat, konsumsi bandwidth yang tidak tepat guna dan kurang bertanggung jawab akan merugikan bangsa lantaran harus dibayarkan ke pihak luar dalam mata uang asing sehingga turut menguras cadangan devisa nasional. (ash/faw)