Di Indonesia, barangkali kejahatan seperti itu belum terlalu umum. Namun untuk Australia saja, diestimasi mengalami kerugian US$3 miliar per tahun akibat kasus pencurian identitas.
Dalam kejahatan ini, kaum kriminal mencuri identitas seseorang kemudian menyalahgunakannya, misalnya untuk mendapat pinjaman atau kartu kredit.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sedangkan saat ini, salah satu lahan basah untuk meraup identitas adalah situs jejaring semacam Facebook. "Data kelahiran, tempat kerja dan detail keluarga bisa dipanen di Facebook. Ini idaman bagi para pencuri identitas," ungkapnya.
"Para penjahat meraup banyak data identitas dan membuat stok raksasa. Mereka menciptakan program pemanen data untuk mengekstrak informasi dari berbagai sumber," tambahnya seperti dilansir BrisbaneTimes dan dikutip detikINET, Senin (12/10/2009).
Di samping Facebook, situs Twitter juga diprediksi bakal jadi lahan empuk lainnya bagi pencuri identitas. Polisi pun menasehati agar user berhati-hati mengumbar informasi personalnya di situs jejaring dan membatasinya agar hanya dapat diakses oleh orang terpercaya saja. (fyk/faw)