Menristek menjadi penampil pertama dengan beraksi menggunakan software batik fraktal J.Batik. KK -- demikian biasa ia disapa -- sepertinya telah mempersiapkan diri untuk acara ini. Pasalnya, sebelumnya ia telah mendapat kursus singkat dari pengguna batik fraktal asal Pacitan.
Sehingga ketika ia tampil di panggung, meski masih sedikit canggung, pola batik hasil kreasi mantan rektor ITB itu cukup menarik dan mendapat sambutan para peserta.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kenapa disebut batik fraktal karena pola-pola yang dibuat berasal dari geometri fraktal. Dan setiap kode berpengaruh terhadap pola yang dibuat," jelasnya di acara yang berlangsung di gedung BPPT, Senin (10/8/2009).
Setelah menristek, selanjutnya menkominfo dan menperin juga diajak ke depan panggung untuk mencicipi cara membatik berteknologi tinggi selanjutnya, yaitu canting elektronik.
Canting biasanya menjadi alat utama para pembatik untuk membuat motif di atas kain. Namun tak seperti alat tradisional, canting elektronik ini menggunakan listrik untuk memanaskan malam/lilin dalam membentuk pola di atas kain, sehingga suhu panas dari canting pun bisa dihasilkan dengan lebih baik.
Untuk menggunakan alat ini, pertama-tama pola batik dari kertas yang sudah dibuat harus diletakkan di atas alas lalu ditutupi dengan kaca dan bahan. Selain itu, di bawah alas yang digunakan juga terdapat lampu untuk menerangi pola yang akan dikerjakan.
Ketika menjajalnya, menkominfo terlihat lebih mahir dalam membuat pola-pola batik Pacitan ketimbang menperin yang terlihat masih kaku.
(ash/faw)