Hal ini pun mengusik Pusat Penelitian Elektronika dan Telekomunikasi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (PPET LIPI) dan PT Solusi 247 divisi Radar & Communications System (RCS), yang menegaskan bakal menyebarluaskan radar produksinya ke dalam negeri.
Ditemui usai Seminar Radar Nasional III 2009 di ruang Embassy, Hotel Savoy Homman, Bandung, Kamis (30/4/2009) petang, Kepala Bidang
Telekomunikasi LIPI-PPET Dr Mashury kepada detikINET mengaku radar hasil produksinya mampu bersaing dengan radar-radar komersil lainnya produksi luar
negeri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
kosong," katanya.
Karenanya, Mashury mengaku akan konsentrasi menggarap pasar dalam negeri. "Kita sudah hitung dan ternyata pangsa pasar dalam negeri sangat besar. Potensial user seperti TNI, Polri, Departemen Kelautan dan Perikanan, Pelindo, Angkasa Pura dan perusahaan swasta yang mwmiliki pelabuhan sendiri. Ini pasar yang belum tergarap," ungkapnya.
Disinggung mengenai pasar luar negeri, Mashury yakin pasar ASEAN mampu dirambahnya. Karena menurutnya saat ini belum ada satu pun negara di kawasan Asia Tenggara yang memproduksi radar secara komersil.
"Setahu saya sampai saat ini belum ada satupun negara di ASEAN yang mengaku memproduksi radar secara komersil. Saya tidak tahu kalau secara rahasia untuk
kepentingan militernya ada yang memproduksi juga. Jadi kita siap bersaing dengan produk luar di pasar ASEAN," katanya yakin.
Keyakinan Mashury cukup berdasar karena saat ini biaya riset untuk radar tersebut mencapai Rp 3-4 miliar. Sedangkan harga radar serupa buatan luar negeri
bisa mencapai Rp 15 miliar.
"Di pasaran yang mirip radar kita itu dari Polandia. Harganya sekitar Rp 8 miliar di sana. Jika sampai di Indonesia bisa menjadi Rp 15 miliar. Kita belum bisa menentukan berapa harga jual radar kami nantinya. Yang jelas diharapkan cost operasional dan maintenance lebih murah sehingga harganya lebih kompetitif," pungkasnya.
(afz/ash)