Studi ini dilakukan oleh Pnemon Institute dan disponsori Intel, dengan melibatkan sebanyak 28 perusahaan di Amerika Serikat yang melaporkan 138 kasus pencurian laptop.
Seperti dikutip detikINET dari Mercurynews, Jumat (24/4/2009), dari hasil penelitian ditemukan, dana sebesar US$ 50.000 atau sekitar Rp 500 juta tersebut digelontorkan perusahaan untuk menyelamatkan data-data penting di laptop, biaya investigasi, kerugian dari segi produktivitas, serta untuk penggantian laptop.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, biaya ini bisa ditekan jika data-data di dalam laptop dienkripsi. Disebutkan pula dalam penelitian tersebut, kasus pencurian paling sering terjadi di bandara, konferensi, di dalam taksi, persewaan mobil, serta hotel-hotel.
Perusahaan kesehatan, consulting, jasa finansial, farmasi, pendidikan, hukum, dan perusahaan teknologi merupakan deretan perusahaan yang mengalami kerugian terbesar saat kehilangan notebook, mengingat banyak data-data penting yang hilang.
(faw/faw)