Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Meski Berbayar, Hotspot di UPI Tetap Diminati

Meski Berbayar, Hotspot di UPI Tetap Diminati


- detikInet

Bandung - Meskipun hotspot di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) tidak gratis alias berbayar, hal ini tidak menyurutkan minat para mahasiswa untuk berselancar di area kampus. Terbukti trafik penggunaan bandwidth selalu tinggi.

Hal ini diungkapkan oleh Dr. Munir, M.IT, Direktur, Direktorat TIK UPI kepada detikINET di ruang kerjanya di gedung UPI.net, Selasa (14/4/2009). Ditunjukkan Munir, dari bandwidth 32 Mbps di kampus utama dan 5 Mbps di 5 kampus daerah, trafiknya selalu penuh.

"Rata-rata tiap hari ada sekitar 750 user yang mengakses di kampus ini. Padahal di UPI.net ada 300 unit komputer saja. Artinya memang banyak juga yang mengakses dari lingkungan kampus," ujar Munir.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Munir, fasilitas hotspot sudah mencover sekitar 80 persen dari kampus UPI. "Hotspot ada di gedung ADB, MIPA, Quarter, dan gedung eks BAAK/BUUK. Ya sekitar 80 persen dari seluruh UPI," ungkapnya.

Untuk bisa menikmati hotspot di UPI, mahasiswa harus membeli voucher. Nilai voucher beragam mulai dari Rp 10 ribu untuk 4 jam akses dengan masa pakai sampai 2 minggu. Voucher Rp 20 ribu untuk akses 9 jam dengan masa aktif 1 bulan, hingga voucher senilai Rp 1 juta untuk batas pemakaian tak terbatas dalam waktu 1 tahun.

Namun, tak ingin menimbulkan polemik karena keberadaan hotspot berbayar ini, Munir akan mengajukan usul kepada pimpinan Universitas untuk menggratiskan hotspot di lingkungan kampusnya.

"Kita sadari kemampuan mahasiswa saat ini sudah cukup. Dan mereka butuh fleksibilitas. Karenanya saya secara pribadi akan mengusulkan ke pimpinan untuk menyediakan akses internet yang mudah dan murah," papar pria yang getol menyuarakan TIK Merdeka untuk kalangan akademisi ini.Namun Munir mengaku masih bingung dengan format gratis seperti apa yang akan ditawarkan. Karena di satu sisi pihaknya tidak bisa menutup mata bahwa untuk pengadaan, perawatan serta operasional tidaklah murah."Ya mungkin formatnya akan dikembalikan seperti dulu lagi (mahasiswa harus membayar biaya fasilitas TIK setiap kali registrasi per tahun-red). Tapi tidak dipukul rata. Jadi siapa yang mau ya silahkan registrasi," pungkasnya.
(faw/faw)






Hide Ads