Meski demikian, penggiat Bahasa Indonesia di Balai Bahasa tak mau berperan sebagai 'Polisi Bahasa'. "Saya melihatnya sebagai bahasa percakapan yang dituliskan. Itulah uniknya blog. Kami hanya berkewajiban meluruskan hal yang salah. Tapi tidak harus menjadi polisi bahasa," ujar Sarip Hidayat, Staf Teknis Balai Bahasa Bandung dan Pengelola Situs Balai Bahasa Bandung yang dikutip detikINET Selasa (31/3/2009).
Menurut Sarip berdasarkan dari pengalaman yang pernah ada, penggunaan bahasa hanya masalah tren. "Contohnya dulu saat muncul bahasa gaul, bahkan ada juga kamusnya. Sekarang sudah digantikan dengan bahasa yang lain. Jadi ini hanya tren sesaat semata," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Karena memang motivasinya supaya akrab. Sehingga kebanyakan menggunakan bahasa percakapan," papar pria yang juga bekerja di PT Sigma Delta Duta Nusantara, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang TI ini.
Tak hanya itu, pria yang akrab dipanggil Amal ini mengaku ada pertimbangan lain yang mendasarinya. Menurutnya, kecendrungan masyarakat di Indonesia tidak nyaman kalau dianggap serius. "Wah kok serius sekali. Begitu biasanya kalau ada orang yang menggunakan bahasa baku. Dan bagi beberapa orang hal tersebut membuatnya tidak nyaman," katanya.
Senada dengan Amal, Yudha P Sunandar, Ketua Batagor (Bandung Kota Blogger), justru mengaku penggunaan bahasa percakapan justru menjadi ciri khas citizen journalism. Baginya dengan menggunakan bahasa percakapan akan membuat pembaca lebih dekat.
"Dengan bahasa percakapan akan lebih menarik dan enak dibaca. Dan biasanya orang senang untuk mengunjunginya lagi. Biasanya penggunaan bahasa percakapan khusus buat masalah yang ringan, sedangkan bahasa baku cenderung bahas yang serius," kata Yudha.
(afz/wsh)