Hal itu mengemuka dalam e-mail dari Hemat Dwi Nuryanto, Anggota Tim Ahli TI KPU, yang diterima detikINET, Senin (9/2/2009). Hemat menyampaikan bahwa Tim Ahli TI KPU telah mengajukan surat hasil penelaahan Tim TI kepada Ketua KPU.
Dalam surat itu disebutkan bahwa penggunaan fasilitas input data dengan Optical Recognition Technology (ORT) dapat menghemat anggaran Rp 110 miliar hingga Rp 125 miliar. Penghematan itu dibandingkan dengan penggunaan fasilitas manual seperti yang dilakukan pada 2004.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski demikian, tim TI KPU mengakui bahwa fasilitas input data bukanlah segalanya. "Sebagus apapun fasilitas input data, baik yang manual ataupun berbasis ORT, akan menjadi tidak berarti apabila tidak didukung oleh database hasil penghitungan suara dan sistem tabulasi yang dapat menampilkan hasil penghitungan suara secara cepat, lengkap, dan akurat yang dapat diakses publik dan media massa secara cepat dan stabil," tulis surat itu.
Sistem Informasi Pemilu terdiri dari 28 komponen/aplikasi. Termasuk di dalamnya adalah fasilitas input data, sistem perhitungan suara elektronik, database hasil perhitungan suara hingga sistem tabulasi.
Di masa depan Tim Ahli TI KPU menyarankan penggunaan sistem pemungutan dan penghitungan suara elektronik alias e-Voting yang didukung Optical Character Recognition (OCR) dan Optical Barcode Recognition (OBR). (wsh/wsh)